Kau tidak tahu sih rasanya pikiran berlompatan seperti sebak penuh belut diberi potas. Itulah sebabnya pikiran perlu dikandangi sekotak demi sekotak. Tepat delapan baris, tepat rata kanan rata kiri. Tidak boleh sampai peyang, apalagi melejit. Seperti ketika 'ku menyantap sarapan tadi, pikiran berlompatan gara-gara Idayu mengobrol dengan Pada mengenai kebenaran. Memang kalau takut orang suka asal-asalan. Apalagi, sekecil apapun, kucing tetap macan, meski sebesar apapun, macan tetap kucing. Lantas, bila ada kucing besar, mengapa tidak ada anjing besar. Kata siapa.
Anjing besar menang kelahinya. Maka, jika kau bingung mana yang benar di antara beberapa kebenaran, pilihlah yang paling lirih. Bahkan pilihlah yang paling sunyi, karena Kebenaran bekerja dalam sunyi. Dalam kesunyian yang suwung itu, kesunyian yang memekakkan telinga, Ia bekerja sekeras-kerasnya tanpa tidur, tanpa mengantuk, tanpa lalai. Ia selalu tegak berdiri terjaga. Kebanyakan kita tak dapat melihatnya karena kesuwungan itu. Rata-rata kita tak sanggup mendengar karena saking lirih dan sunyinya Ia bekerja. Telebih karena hati pikiran kita pun riuh-rendah.
Aku menghirup-hirup teh melati keraton Jawa diberi pemanis buatan sejebung 750 ml, seraya pendengaranku dibelai-belai hembusan saksofon buatan kecerdasan buatan. Di jaman ultramodern ini, posmodern ini, apa masih bisa kita mendengar, ketika di mana pun kita dipaksa mendengar. Sedang gaokan gagak, kuakan keledai, bahkan ngoikan babi pun jauh lebih merdu. Kata-kata merdu mendayu, kata-kata penuh istilah ilmiah bahkan filosofis fantasia fantastika, kata-kata lembut penuh nasihat relijius nan teduh, terdengar seperti jeritan drubiksa, prahara dari kedalaman neraka.
Padahal mendengar inilah saripatinya. Mulut, bibir, dan lidah punya kegunaan lain selain berbicara atau sekadar membuat suara-suara. Sebagai babahan hawa, mulut bahkan terhubung dengan dubur, seperti lubang kencing lanang terhubung dengan lubang peranakan betina. Jangan pura-pura tidak tahu. Jangan belagak pilon. Bahkan lubang-lubang hawa ini bisa saling terhubung dengan cara-cara yang kurang semestinya antara jantan dan betina. Namun lubang telinga, seperti lubang hidung dan mata, tepat ada dua. Darinya keluar congek tai kuping.
Namun melaluinya pula masuk suara-suara. Dan sungguh semuanya terpulang padamu, apakah kau memilih desahan-desahan birahi, atau senandung kebenaran; yang seringkali tak lebih dari bisikan lirih. Ah, seandainya saja kau tahu. Bisikan kebenaran itu memang jauh lebih lirih dari desahan kekasih sejati kala dicumbu sepenuh hati. Namun gelitiknya pada bulu roma dapat memicu gelinjang yang lebih rampak dibandingkan cumbuan seribu bidadari. Bukan gelinjang badan, melainkan gelinjang jiwa. Getaran nurani. Bisa tersedu-sedan karenanya bagai hilang perawan.
'Ku teguk lagi teh melati keraton Jawa yang kini tinggal seprapat. 'Ku teguk, karena sudah tidak panas. Apakah setelahnya akan dilanjut dengan madu nipis jahe merah dilarutkan dengan secangkir air panas, aku belum tahu. Gitar dan piano dari musik instrumental popular mudah didengar masih berkethuwal-kethuwil di telingaku. Bunyi-bunyian dari kesunyian pagi yang telah larut meningkahi di latar-belakang. Sementara keluthak-keluthik biji-biji papan-tekan atas-pangkuanku menjadi irama dan ketukan yang menjaga bagiku keselarasan, supaya serasi seimbang diriku.
Mendengar, Kawan-kawan, jangan bersuara, apatah lagi dalam bilik. Memberikan suaramu dengan cara mencoblos dalam bilik sangat bertentangan dengan kodrat alam. Itu sama saja dengan mencobloskan batang kejantanan ke dalam lubang pelepasan jantan maupun betina; amit-amit, Jagad Dewa Batara! Dalam bilik atau di manapun, tajamkanlah pendengaran. Bahkan carilah bisikan-bisikan itu, lirih mendesah hampir-hampir tak terdengar, seperti desauan angin lalu di padang gurun berbatu. Di situlah Kebenaran melantangkan suara yang menggedori kejumudan.
Anjing besar menang kelahinya. Maka, jika kau bingung mana yang benar di antara beberapa kebenaran, pilihlah yang paling lirih. Bahkan pilihlah yang paling sunyi, karena Kebenaran bekerja dalam sunyi. Dalam kesunyian yang suwung itu, kesunyian yang memekakkan telinga, Ia bekerja sekeras-kerasnya tanpa tidur, tanpa mengantuk, tanpa lalai. Ia selalu tegak berdiri terjaga. Kebanyakan kita tak dapat melihatnya karena kesuwungan itu. Rata-rata kita tak sanggup mendengar karena saking lirih dan sunyinya Ia bekerja. Telebih karena hati pikiran kita pun riuh-rendah.
Aku menghirup-hirup teh melati keraton Jawa diberi pemanis buatan sejebung 750 ml, seraya pendengaranku dibelai-belai hembusan saksofon buatan kecerdasan buatan. Di jaman ultramodern ini, posmodern ini, apa masih bisa kita mendengar, ketika di mana pun kita dipaksa mendengar. Sedang gaokan gagak, kuakan keledai, bahkan ngoikan babi pun jauh lebih merdu. Kata-kata merdu mendayu, kata-kata penuh istilah ilmiah bahkan filosofis fantasia fantastika, kata-kata lembut penuh nasihat relijius nan teduh, terdengar seperti jeritan drubiksa, prahara dari kedalaman neraka.
Padahal mendengar inilah saripatinya. Mulut, bibir, dan lidah punya kegunaan lain selain berbicara atau sekadar membuat suara-suara. Sebagai babahan hawa, mulut bahkan terhubung dengan dubur, seperti lubang kencing lanang terhubung dengan lubang peranakan betina. Jangan pura-pura tidak tahu. Jangan belagak pilon. Bahkan lubang-lubang hawa ini bisa saling terhubung dengan cara-cara yang kurang semestinya antara jantan dan betina. Namun lubang telinga, seperti lubang hidung dan mata, tepat ada dua. Darinya keluar congek tai kuping.
Namun melaluinya pula masuk suara-suara. Dan sungguh semuanya terpulang padamu, apakah kau memilih desahan-desahan birahi, atau senandung kebenaran; yang seringkali tak lebih dari bisikan lirih. Ah, seandainya saja kau tahu. Bisikan kebenaran itu memang jauh lebih lirih dari desahan kekasih sejati kala dicumbu sepenuh hati. Namun gelitiknya pada bulu roma dapat memicu gelinjang yang lebih rampak dibandingkan cumbuan seribu bidadari. Bukan gelinjang badan, melainkan gelinjang jiwa. Getaran nurani. Bisa tersedu-sedan karenanya bagai hilang perawan.
'Ku teguk lagi teh melati keraton Jawa yang kini tinggal seprapat. 'Ku teguk, karena sudah tidak panas. Apakah setelahnya akan dilanjut dengan madu nipis jahe merah dilarutkan dengan secangkir air panas, aku belum tahu. Gitar dan piano dari musik instrumental popular mudah didengar masih berkethuwal-kethuwil di telingaku. Bunyi-bunyian dari kesunyian pagi yang telah larut meningkahi di latar-belakang. Sementara keluthak-keluthik biji-biji papan-tekan atas-pangkuanku menjadi irama dan ketukan yang menjaga bagiku keselarasan, supaya serasi seimbang diriku.
Mendengar, Kawan-kawan, jangan bersuara, apatah lagi dalam bilik. Memberikan suaramu dengan cara mencoblos dalam bilik sangat bertentangan dengan kodrat alam. Itu sama saja dengan mencobloskan batang kejantanan ke dalam lubang pelepasan jantan maupun betina; amit-amit, Jagad Dewa Batara! Dalam bilik atau di manapun, tajamkanlah pendengaran. Bahkan carilah bisikan-bisikan itu, lirih mendesah hampir-hampir tak terdengar, seperti desauan angin lalu di padang gurun berbatu. Di situlah Kebenaran melantangkan suara yang menggedori kejumudan.


No comments:
Post a Comment