Sunday, February 08, 2026

Elegi Hutan Bambu di Minggu Sore. Atau Eulogi Ini


Masya Allah, ini adalah Minggu sore yang aduhai menyenangkan. Sedikit bermendung namun sinar matahari masih sanggup menembus. Ini seperti entah sudah berapa ribu Minggu sore menyenangkan yang telah 'ku lewati dalam hidupku. Apakah lantas dalam entri ini akan 'ku ceritakan Minggu-minggu soreku yang menyenangkan, bisa jadi. Namun entah bagaimana, setelah berhari-hari malas melakukannya, tadi baru saja aku menemukan ketetapan hati untuk menggunting kuku di kedua belah tangan dan kakiku. Mungkin karena ini Minggu sore yang menyenangkan aku begitu.
Ketika menggunting kuku-kuku kaki-kakiku kaku-kaku, seperti biasa aku teringat kejadian favoritku. Ternyata baru saja ini aku masih tidak sanggup menahan tawa ketika mengingatnya, Alhamdulillah. Betapa Allah masih mengaruniakan padaku kebahagiaan-kebahagiaan kecil seperti ini. Jadi, di suatu Jumat siang yang terik, aku teduh tepat di tengah-tengah Masjid Jami' al-Mukhlisin Jalan Haji Sajim, Radio Dalam. Sambil berusaha sebisanya mendengarkan kotbah entah Ustadz Abdul Qodir atau Abdul Ghoni, diriku mengorek-ngorek kotoran di sudut kuku jempol kaki.

Setiap dapat sedikit, 'ku pilin-pilin dengan ibu jari dan telunjuk tangan, 'ku hirup ah sedap memabukkan baunya, dan 'ku makan. 'Ku gigit-gigit ia, 'ku kecap-kecap pahit rasanya, tidak sesedap baunya. Bapak-bapak sebelahku mungkin sudah cukup lama memperhatikan tingkahku. Ketika aku menengok padanya, bapak itu sedang berjengit, bergidik kejijikan. 'Ku beri padanya senyum tulusku sebelum menyuap sejumput kotoran kuku ke mulutku, 'ku rasa ia membuang muka. Ekspresi wajahnya aku tak pernah lupa, dan tidak pernah gagal membuatku tertawa sampai barusan saja ini.

Oh ya, tadi aku sempat berjanji (halahmadrid!) untuk bercerita mengenai Minggu-minggu sore menyenangkan yang pernah diriku alami dalam hidupku. Banyak sekali. Apakah itu Minggu sore ketika aku ngampar di kamar mandi luar ruangan tak beratap di kantor notaris di Jalan Radar AURI, aku tak ingat. Namun jika kau menengadah, akan tampak olehmu daun-daun pisang melambai-lambai di atasmu ditiup angin. Pada ketika itu Bang Fred berusia 40 tahun dan sudah kaya. Pada umur yang sama aku tak punya apapun, apatah kamar mandi luar ruangan beratap daun pisang.

Di rumah istriku sendiri ini pun banyak Minggu sore menyenangkan telah 'ku lalui. Apakah itu di bawah desau dedaunan bambu yang saking tingginya sampai melengkung ke arah timur. Jadi, matahari tidak pernah lama menyinari jalanan di depan rumah kami, paling di sekitar tengah hari selama satu jaman. Ketika pagi ia terhalang rumah kami. Ketika sore ia terhalang rimbunan hutan bambu. Masya Allah betapa permainya rumah kami ketika hutan bambu itu masih ada dan utuh. Desau berdesirnya itu nan seperti ombak laut aduhai sungguh terkenang-kenang.

Sebelum memilih rumah ini kami juga sempat melihat sebuah rumah di Permata Depok Regency. Jika rumah kami ini melebar ke samping, rumah itu sempit memanjang ke belakang. Di belakangnya masih ada tanah kosong lumayan luas, dan di belakang tanah kosong itu pun rimbunan bambu. Oh, bambu-bambu, setidaknya lima tahun kau menemaniku yang terkadang sendirian saja di rumah ini. Hanya desau desir dedaunanmu membersamai, terkadang ditingkahi nyanyian kedasih yang sendu, atau tangisan birahi musang pandan. Bahkan kenangannya saja hangat di hati.

Ya, seperti sore ini. Meski hutan bambu telah tiada, sorenya nyaman menghangatkan hati. Meski belum Imlek, meski pagi tadi sempat gerimis tipis-tipis, sore ini kering dan nyaman. Maka dari itulah aku ngampar di beranda menggunting kuku-kuku tidak saja kaki-kaki yang kaku-kaku tetapi juga tangan-tangan sekalian. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, atas segala nikmat karuniaNya. Ajarkanlah kepada kami cara mensyukurinya, Illahi ya Rabbi, agar kami menjadi hamba-hambaMu yang pandai bersyukur. Sholawat semoga tetap atas RasulMu.

No comments: