Selamat pagi yang sudah tidak pagi lagi, dua jam menuju tengah hari, di ruang makan yang entah mengapa nyaman begini; mungkin karena tahun baru. Setelah menghabiskan malam tahun baru membersamai Presiden Soeharto, pagi tahun barunya aku di ruang makan ini lagi. Menyantap dua butir telur, sekepal nasi, sejumput spaghetti. Entah mengapa aku selalu memesan lengkap dengan dada mentoknya, padahal sejak kapan aku suka ayam. Sudah lama sekali pasti aku menghabiskan sepotong ayam. Apa dulu di Popeye's bersama Dedi Sudedi pesan ayam selain kentang tumbuk.
Tadi di judul hampir saja 'ku tulis yang tidak-tidak dari judul-judul kematian fauna besar, simfoni kehancuran, hitung-mundur menuju kepunahan. entah-entah apa itu. Di ruang makan ini aku sendiri. Akankah aku lebih senang jika tidak sendiri. Seperti apa bentuk kesenangan. Akankah aku lebih senang jika aku seorang asisten perencanaan umum panglima angkatan bersenjata yang beristri dua, sedang ia mungkin lebih muda tiga puluh tahunan. Aku sendiri namun tiada kepusinganku kini. Cukup begini, 'mandang dari jauh, 'ngendurkan otot sepasang mata bola.
Dari balik jendela, bukan celana! Seperti biasa kerutinannya, setelah ini meminta si kembar untuk melakukan analisis. Sudah setua ini, masih pantaskah aku memimpikan hidup kembali di Negeri Belanda. Cantik senang, ibu senang, tapi aku tidak mau jauh-jauh dari ibu. Bahkan sekarang sedekat ini saja jarang. Sebenarnya jarang atau tidak itu masalah dorongan. Aku ingat betapa dulu setidaknya seminggu sekali, entah puding roti mentega, entah bakpao chik yen, terakhir ayam warung sate gajah, dari lima belas bahkan dua puluhan tahun lalu. Masih muda beliau.
Sedang di luaran sana langit menggelap, 'ku yakin burung layang-layang, undur-undur, ikan julung-julung tidak pernah meminta cuaca yang seperti apa atau air yang kadar logam beratnya berapa; sebagaimana mereka tidak pernah minta dihadirkan ke dunia ini. Hadir. Ke dunia. Aku sudah seperti si banci palbut alias pallubutung menyebut kata-kata satu-satu. Betapatah 'kan dapat 'ku yakinkan bahwa ini semua koheren sebagai sebuah narasi, karena semuanya berasal dari kepalaku yang berjejal-jejal isinya. Aku bukan Sherlock Holmes. Aku Dr. Watson, bak itulah, bukan dokter medis.
Jika kau melihatku membisu seribu kata, diam seribu ba'sa, sesungguhnya aku menceracau. Aku menyembur kata-kata, tak 'ku biarkan membusa-busa di tepi-tepi bibir seperti Teddy Seskab itu. Aku naga kata-kata. Orang menggilai dan mengelu-elukanku. "Gila, 'lu! Gila, 'lu!" 'Ku bayangkan diriku lebih lendir daripada otot atau jaringan apapun, menjelempah melata-lata, bergubal dengan debu jalanan, menggumpal-gumpal semakin lama semakin besar. Aku binatang yang seperti itu, semacam Elastiman. Aku tercebur sungai, terkena gas beracun. Aku semacam Margarito Farr.
Dan ini Kamis, dan di sudut kiri bawah layar ada tulisan 1 (satu) centimeter hujan Jumat. Dan dalam 20 menit aku sudah dapat memesan daging sapi kemakmuran. Oh, ya, aku selalu punya firasat bahwa makmur itu lebih tinggi tingkatannya dari sekadar sejahtera. Sejahtera itu asal tidak miskin, bahkan tidak merasa miskin. Kalau makmur ya seperti Bang Makmur tukang soto mie di Gang Pancoran yang pernah mati, hidup lagi, lalu benar-benar mati. Soto mie Bang Makmur seingatku biasa saja, seperti semua soto mie. Bakso belakang rumah itu boleh, lah. Aku suka.
Bahkan nasi Bu Mideh, yang mungkin namanya Hamidah tanpa wanda, karena kalau pakai wanda berarti tidak jadi terpuji. Bahkan yang di seberangnya lagi, yang ada jual gado-gado juga jika tak salah. Itulah contoh waktu-waktu yang 'ku sangka takkan pernah berakhir namun kini seperti impian. Hanya ingatanku saja merasa ia pernah terjadi. Aku tak yakin otot-ototku mengingatnya, atau aku saja yang tidak menyadarinya, karena ototku sebenarnya masih polos, sedangkan yang tidak ingat itu sebenarnya pakai lurik pasti salah. 'Udah gila apa mau janjian pakai lurik.
Tadi di judul hampir saja 'ku tulis yang tidak-tidak dari judul-judul kematian fauna besar, simfoni kehancuran, hitung-mundur menuju kepunahan. entah-entah apa itu. Di ruang makan ini aku sendiri. Akankah aku lebih senang jika tidak sendiri. Seperti apa bentuk kesenangan. Akankah aku lebih senang jika aku seorang asisten perencanaan umum panglima angkatan bersenjata yang beristri dua, sedang ia mungkin lebih muda tiga puluh tahunan. Aku sendiri namun tiada kepusinganku kini. Cukup begini, 'mandang dari jauh, 'ngendurkan otot sepasang mata bola.
Dari balik jendela, bukan celana! Seperti biasa kerutinannya, setelah ini meminta si kembar untuk melakukan analisis. Sudah setua ini, masih pantaskah aku memimpikan hidup kembali di Negeri Belanda. Cantik senang, ibu senang, tapi aku tidak mau jauh-jauh dari ibu. Bahkan sekarang sedekat ini saja jarang. Sebenarnya jarang atau tidak itu masalah dorongan. Aku ingat betapa dulu setidaknya seminggu sekali, entah puding roti mentega, entah bakpao chik yen, terakhir ayam warung sate gajah, dari lima belas bahkan dua puluhan tahun lalu. Masih muda beliau.
Sedang di luaran sana langit menggelap, 'ku yakin burung layang-layang, undur-undur, ikan julung-julung tidak pernah meminta cuaca yang seperti apa atau air yang kadar logam beratnya berapa; sebagaimana mereka tidak pernah minta dihadirkan ke dunia ini. Hadir. Ke dunia. Aku sudah seperti si banci palbut alias pallubutung menyebut kata-kata satu-satu. Betapatah 'kan dapat 'ku yakinkan bahwa ini semua koheren sebagai sebuah narasi, karena semuanya berasal dari kepalaku yang berjejal-jejal isinya. Aku bukan Sherlock Holmes. Aku Dr. Watson, bak itulah, bukan dokter medis.
Jika kau melihatku membisu seribu kata, diam seribu ba'sa, sesungguhnya aku menceracau. Aku menyembur kata-kata, tak 'ku biarkan membusa-busa di tepi-tepi bibir seperti Teddy Seskab itu. Aku naga kata-kata. Orang menggilai dan mengelu-elukanku. "Gila, 'lu! Gila, 'lu!" 'Ku bayangkan diriku lebih lendir daripada otot atau jaringan apapun, menjelempah melata-lata, bergubal dengan debu jalanan, menggumpal-gumpal semakin lama semakin besar. Aku binatang yang seperti itu, semacam Elastiman. Aku tercebur sungai, terkena gas beracun. Aku semacam Margarito Farr.
Dan ini Kamis, dan di sudut kiri bawah layar ada tulisan 1 (satu) centimeter hujan Jumat. Dan dalam 20 menit aku sudah dapat memesan daging sapi kemakmuran. Oh, ya, aku selalu punya firasat bahwa makmur itu lebih tinggi tingkatannya dari sekadar sejahtera. Sejahtera itu asal tidak miskin, bahkan tidak merasa miskin. Kalau makmur ya seperti Bang Makmur tukang soto mie di Gang Pancoran yang pernah mati, hidup lagi, lalu benar-benar mati. Soto mie Bang Makmur seingatku biasa saja, seperti semua soto mie. Bakso belakang rumah itu boleh, lah. Aku suka.
Bahkan nasi Bu Mideh, yang mungkin namanya Hamidah tanpa wanda, karena kalau pakai wanda berarti tidak jadi terpuji. Bahkan yang di seberangnya lagi, yang ada jual gado-gado juga jika tak salah. Itulah contoh waktu-waktu yang 'ku sangka takkan pernah berakhir namun kini seperti impian. Hanya ingatanku saja merasa ia pernah terjadi. Aku tak yakin otot-ototku mengingatnya, atau aku saja yang tidak menyadarinya, karena ototku sebenarnya masih polos, sedangkan yang tidak ingat itu sebenarnya pakai lurik pasti salah. 'Udah gila apa mau janjian pakai lurik.

