Sunday, February 22, 2026

Jangan Percaya Dunia Tak Boleh Beri Korang Surga


Bagaimana caranya tunjukkan aku jalannya sampai tidak ada dalam ZTE mix; justru dalam map aslinya, The Suckest Profile, yang sebelumnya bernama SuckTwilite iProfile. Semua pahlawan dan legenda yang 'ku tahu sebagai kanak-kanak berubah menjadi berhala lempung. Uah, dahsyat betul alegorinya, sampai-sampai ingin 'ku ambil lagi dua mintz rasa musim semi. Aku memang selalu makan sekaligus dua bungkus sekali makan. 'Nih, 'ku makan lagi sekaligus dua, jadi empat semua. 'Ku kunyah-kunyah seperti kacang mete (monyet?) 'nyembul dari jambu monyetnya. 
Kalau begini urutannya memang spesifik dari waktu-waktu itu: Tunjukkan aku jalannya, Sirami aku dengan cintamu, Sesuatu terjadi di jalan ke surga. Dari kecil aku memang tidak dilatih makan buah, sampai-sampai satu-satunya buah yang 'ku sukai ya jambu monyet itu. Namun satu hal selalu menjadi kegundahanku (halah!): Jika jambu monyet mengapa kacangnya mete. Mengapa tidak monyet. Tenang, aku hanya bercanda. Aku sudah tahu jawabannya: Karena aku monyetnya. Ya, kau boleh kata ini swadefekasi atau apa, tetap saja aku monyetnya. Betapa hendak dikata. 

Sesuatu yang bodoh memang selalunya untuk dikatakan kepada manusia yang pada dadanya menggantung dua jambu monyet, dengan kacang-kacang mete pada dua ujungnya. Manusia seperti gajah, jejambuan monyet menggantung pada dada; tidak seperti sapi yang jauh di bawah perut. Terkadang di larut malam kau kata cinta padaku. Kau cinta bermain denganku, atau mempermainkanku, aku tidak seberapa peduli. Sepanjang kau cinta padaku, dan apabila jejambuan monyet menggelantung di dadamu, dan kau bukan gajah. Gajah pun aku tak peduli, Jambu Monyet.

Apa lagi mau kau bilang, mimpi demam. Aku lebih tidak peduli. Meski tadi pagi sudah diberi Mixagrip Greges lalu malam ini Panadol Extra, dulu-dulu sudah 'ku terkam. Bahkan betisnya 'ku bidik dengan Mauser C96 gagang-sapu tepat kena, garuk-garuk seperti tersengat entah apa. Jaman segitu aku belum kenal dengan nyamuk hutan bambu. Betis tertembak Mauser gagang-sapu rasanya kurang lebih sama seperti dientup nyamuk hutan rimba belantara. Cahaya-bintang Ekspres selalu 'ku tumpangi dari kecilku, membawa angan cinta yang tak akan pernah terwujud selamanya.

Begitu banyak impian terbang, begitu banyak kata yang tak kita ucapkan. Sudah, sudah. Salah. Seharusnya tetap. Aku benar-benar tetap mencintai diriku sendiri, karena siapa lagi yang dapat membalas cintaku kecuali diriku sendiri. Ketika hama padi saja membuat cintaku bertepuk sebelah tangan. Ketika anak perempuanku sendiri, kesayanganku satu-satunya mencampakkanku, hanya diriku sendiri yang tak berbuah jambu monyet ini dapat 'ku andalkan untuk menghangatkan malam-malamku, sejak dari kecilku sehingga tuaku kini. Aku masih terkena biru-biru jika engkau tahu.

Apa lagi 'nak kau kata, nostalgia melankolia sentimentalia. Tidak ada. Sungguh tidak pernah ada. Jika pun pernah ada yang minta diikat, jika pun pernah ada yang menemplok padaku seperti seekor monyet buntung, aku 'kan dengan senang hati menyeruak dingin: Tidak ada. Aku menulis-nulis begini itu tandanya memang tidak ada, dan aku tidak lagi berharap. Aku berkubang dalam kenangan akan khayalan-khayalan yang tak berdaya, hanya satu impian semata. Khayalanku bukan Bu Susi, Bu Titik, apalagi Bu Eko atau Bu Hartini. Daku berkhayal Pancasila dan UUD 1945.

Ah, orang asing di surga, aku hafal ini di luar kepala, meski 'ku lupa kapan menghafalnya. Aku bahkan lupa versi siapa yang sering 'ku dengarkan di stasiun tua-tua terbaik di kota, tapi aku ingat aku hafal justru setelah stasiun itu tidak lagi memutar lagu-lagu tua dari sudut pandangku yang generasi X pertengahan ini, melainkan sekadar lampau satu dekade. Ini lagi orang-orang asing di malam hari pada 'ngapain. Betapa mereka pernah mengharu-biru, bikin merinding bulu roma, meriang disko suka-suka. Sekarang biasa saja. Sekarang greges sedikit meski tidak pakai linu. 

Sunday, February 15, 2026

Berapa Banyak Kau 'Kan Berkata Minta Maaf, 'Njing


Memang paling pas menulis mengenai hal ini ketika Tomi Pes menyediakan bahu untuk menangis padanya. Memang apa yang akan ditulis. Tadinya hanya terpikir dua. Barusan jadi tiga. Maka daripada lupa harus segera ditulis. Inilah kisah tiga pendekar: Botean Jing, Boteku Cing, dan -yang terakhir terpikir- Botea Yam. Jika kisah ini berhenti di sini, jangan gusar. Jangan risau. Inilah gaya menulis arus kesadaran, aliran ketidakwarasan. Bisa saja di titik ini cerita beralih seperti bintang pada cikcek yang memakan kaki-kaki laba-laba satu demi satu jadi tinggal lima.
Jadi sudah berapa kaki dimakan cikcek. Jika kau tidak pernah tahu kisah Arachne menantang Minerva adu menenun, kau pasti tidak tahu. Jangan-jangan kau juga tidak pernah mendengar tentang Aragog, yang upacara pemakamannya dipimpin oleh Profesor Horace Slughorn. Barusan terpikir, bisa juga dibuat cerita mengenai tiga bersaudara Bo: Bo Teanjing, Bo Tekucing, dan Bo Teayam. Yang mana saja, dapat dibayangkan ini adalah sebuah epos atau roman. Minum cairan kecoklatan yang tiada lain adalah coklat panas di pagi hari yang telah larut lalu mengangguk-angguk.

Mengikuti rampaknya nyanyian Diana King mengenai cowok pemalu, dilanjut Noel berjoget ria di paginya yang sunyi. Uah, seandainya pagi ini sesunyi nyanyian Noel. Nyatanya, di hadapanku Peyang sibuk memotong-motong rumput bersama anak lelakinya. Terlihat betapa tidak profesionalnya, karena ia memang spesialis pembongkar rumah dan pedagang barang rongsokan. Helm MDR bau tai, Skechers Massage Fit bau tai, dan Under Armor Rapid keplek-keplek berjemur di bawah sinar lemah matahari tersaput awan tebal tipis. Tidak apa. Bagus untuk Peyang. 

Alih Manhattan mengajak tersenyum lagi. Apa yang membuat tersenyum. Jangankan lagi, sepagian ini belum ada alasan untuk tersenyum, kecuali sinar matahari sedikit mengintip dari balik mendung. Inilah cuaca sebelum Imlek, begitu kata orang. Ketika setiap tahun begini saja, ada tahun baru yang mencoba sepersis mungkin dengan peredaran bumi mengelilingi matahari. Ada tahun baru yang tidak peduli, justru dihitung dari peredaran bulan mengelilingi bumi sebanyak dua belas kali. Sedangkan hari dimulai tidak dari terbit tetapi terbenamnya sang mentari.

Bisikan pelaksana halus pula mengingatkan satu-satunya buah kesukaan. Sebenarnya buah sungguhan ada juga, yaitu pepaya. 'Tuh 'kan tetap saja sugestif. Ya sudah biar saja sekalian. Memang satu, atau tepatnya, dua-duanya yang disukai adalah buah dada. Lainnya tidak pernah terlalu. Tidak pernah dicari jika tidak ada. Ada pun belum tentu disenggol. Namun buah dada, jangan sembarang disenggol kalau tidak mau kena tuduhan pelecehan seksual. Jaman sekarang kekerasan sesksual bisa verbal bahkan gestural. Apatah bebuah dada, memandangi wajah terlalu lama bisa kena.

Rempah Bayi menyanyikan sangat baik atawa samba musim panas dengan sensualnya, disusul dengan kesendirian oleh kehidupan barat. Secangkir air panas membilas noda-noda cairan kehitaman pada dinding cangkir keramik hitam di luar putih di dalam. Soledad njot-njotan tak ubahnya surinjot 'lang-elangan adalah bunyi-bunyian dari masa lalu, hampir dua puluh lima tahun. Entah apa yang dilakukan aing lalad jambu dengan erang-erang dan Neng Milla [Jovovich]. Ketika itu ia masih akhir dua puluhan, jadi maklum masih tolol. Kalau sekarang masih begitu, entahlah.

Suatu hari nanti kita akan bersama dan kita 'kan berbagi cinta ini selamanya. Tokai. Dulu tak percaya apalagi sekarang. Makhluk-makhluk astral seperti aing lalad jambu dan pendekar hina kelana vespa merah jambu memang tidak tercipta untuk yang seperti-seperti itu. Satunya hidup dari sasetan: kopi, shampoo, deterjen, apapun, yang penting sasetan. Satu lagi hidup dari alam, apakah setandan pisang atau seikat kangkung, pokoknya dari alam. Kalau Mbak Deborah Gibson sekarang kurus sekali dan menua, ya memang begitu perjalanan waktu, jika percaya.

Friday, February 13, 2026

Bab Mendengar Sesungguhnya Intisari Musyawarah


Kau tidak tahu sih rasanya pikiran berlompatan seperti sebak penuh belut diberi potas. Itulah sebabnya pikiran perlu dikandangi sekotak demi sekotak. Tepat delapan baris, tepat rata kanan rata kiri. Tidak boleh sampai peyang, apalagi melejit. Seperti ketika 'ku menyantap sarapan tadi, pikiran berlompatan gara-gara Idayu mengobrol dengan Pada mengenai kebenaran. Memang kalau takut orang suka asal-asalan. Apalagi, sekecil apapun, kucing tetap macan, meski sebesar apapun, macan tetap kucing. Lantas, bila ada kucing besar, mengapa tidak ada anjing besar. Kata siapa.
Anjing besar menang kelahinya. Maka, jika kau bingung mana yang benar di antara beberapa kebenaran, pilihlah yang paling lirih. Bahkan pilihlah yang paling sunyi, karena Kebenaran bekerja dalam sunyi. Dalam kesunyian yang suwung itu, kesunyian yang memekakkan telinga, Ia bekerja sekeras-kerasnya tanpa tidur, tanpa mengantuk, tanpa lalai. Ia selalu tegak berdiri terjaga. Kebanyakan kita tak dapat melihatnya karena kesuwungan itu. Rata-rata kita tak sanggup mendengar karena saking lirih dan sunyinya Ia bekerja. Telebih karena hati pikiran kita pun riuh-rendah.

Aku menghirup-hirup teh melati keraton Jawa diberi pemanis buatan sejebung 750 ml, seraya pendengaranku dibelai-belai hembusan saksofon buatan kecerdasan buatan. Di jaman ultramodern ini, posmodern ini, apa masih bisa kita mendengar, ketika di mana pun kita dipaksa mendengar. Sedang gaokan gagak, kuakan keledai, bahkan ngoikan babi pun jauh lebih merdu. Kata-kata merdu mendayu, kata-kata penuh istilah ilmiah bahkan filosofis fantasia fantastika, kata-kata lembut penuh nasihat relijius nan teduh, terdengar seperti jeritan drubiksa, prahara dari kedalaman neraka.

Padahal mendengar inilah saripatinya. Mulut, bibir, dan lidah punya kegunaan lain selain berbicara atau sekadar membuat suara-suara. Sebagai babahan hawa, mulut bahkan terhubung dengan dubur, seperti lubang kencing lanang terhubung dengan lubang peranakan betina. Jangan pura-pura tidak tahu. Jangan belagak pilon. Bahkan lubang-lubang hawa ini bisa saling terhubung dengan cara-cara yang kurang semestinya antara jantan dan betina. Namun lubang telinga, seperti lubang hidung dan mata, tepat ada dua. Darinya keluar congek tai kuping.

Namun melaluinya pula masuk suara-suara. Dan sungguh semuanya terpulang padamu, apakah kau memilih desahan-desahan birahi, atau senandung kebenaran; yang seringkali tak lebih dari bisikan lirih. Ah, seandainya saja kau tahu. Bisikan kebenaran itu memang jauh lebih lirih dari desahan kekasih sejati kala dicumbu sepenuh hati. Namun gelitiknya pada bulu roma dapat memicu gelinjang yang lebih rampak dibandingkan cumbuan seribu bidadari. Bukan gelinjang badan, melainkan gelinjang jiwa. Getaran nurani. Bisa tersedu-sedan karenanya bagai hilang perawan.

'Ku teguk lagi teh melati keraton Jawa yang kini tinggal seprapat. 'Ku teguk, karena sudah tidak panas. Apakah setelahnya akan dilanjut dengan madu nipis jahe merah dilarutkan dengan secangkir air panas, aku belum tahu. Gitar dan piano dari musik instrumental popular mudah didengar masih berkethuwal-kethuwil di telingaku. Bunyi-bunyian dari kesunyian pagi yang telah larut meningkahi di latar-belakang. Sementara keluthak-keluthik biji-biji papan-tekan atas-pangkuanku menjadi irama dan ketukan yang menjaga bagiku keselarasan, supaya serasi seimbang diriku.

Mendengar, Kawan-kawan, jangan bersuara, apatah lagi dalam bilik. Memberikan suaramu dengan cara mencoblos dalam bilik sangat bertentangan dengan kodrat alam. Itu sama saja dengan mencobloskan batang kejantanan ke dalam lubang pelepasan jantan maupun betina; amit-amit, Jagad Dewa Batara! Dalam bilik atau di manapun, tajamkanlah pendengaran. Bahkan carilah bisikan-bisikan itu, lirih mendesah hampir-hampir tak terdengar, seperti desauan angin lalu di padang gurun berbatu. Di situlah Kebenaran melantangkan suara yang menggedori kejumudan. 


Monday, February 09, 2026

Amsterdam Apa Cikumpa. Mendung Gerimis Begini


Kemarin atau kapan sempat terpikir untuk menulis entri berjudul bebas seperti burung cinta sejati, kini dan nanti. Namun entah mengapa tidak jadi. Apakah akan 'ku lakukan sekarang, entahlah. Yang jelas, aku jadi pagi-pagi di kampus begini karena Bang Jay memintaku menyidang seminar hasil penelitian, yang ternyata masih Rabu. Kambing berangkat ke kampusnya lebih pagi lagi. Aku masih menunggu karena 'ku pikir jadwalku jam sembilan. Namun bukan itu benar sebabnya. Badanku dingin dan seperti masih enggan bangun. Daku perlu yang hangat-hangat.
Begitu saja aku bangkit dari sofa, merobek kemasan ekonomis mie sedap goreng isi lima, dan memasaknya berkuah. 'Ku biarkan agak lama di atas api agar agak benyek seperti kesukaanku dan kembalilah aku ke depan tivi beryutub, kali ini dengan menyangga semangkuk mie sedap goreng berkuah. Kalian 'kan tahu (halah!) mie sedap goreng ada ekstra bawang gorengnya. Nah, selesai makan itu, sudahlah lambungku menunjukkan tanda-tanda mengembung, selembar kulit bawang menyangkut di tekakku. Kau 'kan tahu sampai ada fobia makanan menempel di langit-langit mulut.

Begitulah tadi aku mandi sambil menahankan perasaan itu. Setelah beberapa kali 'ku colok dalam-dalam rongga mulutku, rasa-rasanya kulit bawang itu turun juga masuk kerongkongan. Jika kau kira drama selesai ini, sepatuku basah karena atap di atasnya bocor. Aku sudah sempat lewat pos satpam bersandal ketika aku teringat Rapid Under Armor biru boleh dibelikan Kolonel Infantri Dr. Sigit Purwanto. Aku balik lagi minta diambilkan itu oleh Cantik. Begitulah maka hari ini aku bersepatu sangat kasual. Sebenarnya Skechers Massage Fit aku juga kasual namun ia hitam.

Ya sutra 'lah kita kembali ke bebas seperti burung tadi, burung cinta sejati, kini dan nanti. Tiga lagu Beatles terbaru, atau mungkin lebih tepatnya lagu John Lennon terakhir alangkah sufistiknya. Coba, bebas seperti burung. itulah hal terbaik kedua yang mungkin terjadi: Bebas seperti burung. Pulang, pulang dan kering seperti burung pulang aku terbang. Seperti seekor burung pada sayap-sayapnya. Aduhai, baru syairnya saja sudah membebaskan, apalagi melodi dan progresi kuncinya. Seperti diambil dari kekayaan esoterik yang sangat mistis. Daku tiada pernah meragukan John.

Lantas apa yang lebih baik dari bebas seperti burung? Cinta Sejati! Semua rencana dan skema kecilku hilang seakan mimpi yang terlupakan. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya menunggumu. Seperti gadis dan anak kecil bermain dengan mainan kecil mereka. Seakan semua yang mereka lakukan hanya menunggu Cinta. Tak perlu merasa sendiri, inilah Cinta Sejati. Dari saat ini aku tahu tepatnya kemana 'ku kan pergi. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya menunggu Cinta. Tak perlu takut, inilah Cinta Sejati. Meski aku pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi dalam hatiku ingin lebih [dari itu]. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya 'tuk menungguMu.

Edan! Lalu ini: Aku tahu itu benar. Semua karenaMu. Dan bila 'ku berhasil melaluinya, semua karenaMu. Dan kini dan nanti, jika kami harus memulai lagi, ya, kami akan tahu pasti bahwa aku akan mencintaiMu. Kini dan nanti 'ku merindukanMu. Oh, kini dan nanti 'ku ingin Kau ada di sana untukku, selalu Kembali padaku. Aku tahu itu benar. Semua karenaMu. Dan jika Kau pergi aku tahu Kau takkan pernah tinggal. Ini yang paling meditatif dari ketiganya. Inilah pengalaman fana dalam Dzat seperti yang dialami oleh Mansyur al-Hallaj dan Siti Jenar. Ini jelas kerasuk-rawuhan.

Maka ketika Togar berkata akan ada empat film biopik dari sudut pandang John, Paul, George, Ringo masing-masingnya, yang akan diproduksi Sony, mungkin aku akan menontonnya, namun sangat bisa jadi mungkin tidak. Kalaupun aku sampai menonton, bisa jadi tidak sengaja seperti Rapsodi Gelandangan. Aku ingin menontonnya ketika baru diputar pada 2018 di Amsterdam. Aku baru menontonnya gratis setelah diputar Nexmedia pada 2019. Lagipula, buat apa menonton biopik jika ternyata semua yang 'ku lakukan hanya tinggal menungguMu, Cinta Sejati. Tak perlu merasa takut.

Sunday, February 08, 2026

Elegi Hutan Bambu di Minggu Sore. Atau Eulogi Ini


Masya Allah, ini adalah Minggu sore yang aduhai menyenangkan. Sedikit bermendung namun sinar matahari masih sanggup menembus. Ini seperti entah sudah berapa ribu Minggu sore menyenangkan yang telah 'ku lewati dalam hidupku. Apakah lantas dalam entri ini akan 'ku ceritakan Minggu-minggu soreku yang menyenangkan, bisa jadi. Namun entah bagaimana, setelah berhari-hari malas melakukannya, tadi baru saja aku menemukan ketetapan hati untuk menggunting kuku di kedua belah tangan dan kakiku. Mungkin karena ini Minggu sore yang menyenangkan aku begitu.
Ketika menggunting kuku-kuku kaki-kakiku kaku-kaku, seperti biasa aku teringat kejadian favoritku. Ternyata baru saja ini aku masih tidak sanggup menahan tawa ketika mengingatnya, Alhamdulillah. Betapa Allah masih mengaruniakan padaku kebahagiaan-kebahagiaan kecil seperti ini. Jadi, di suatu Jumat siang yang terik, aku teduh tepat di tengah-tengah Masjid Jami' al-Mukhlisin Jalan Haji Sajim, Radio Dalam. Sambil berusaha sebisanya mendengarkan kotbah entah Ustadz Abdul Qodir atau Abdul Ghoni, diriku mengorek-ngorek kotoran di sudut kuku jempol kaki.

Setiap dapat sedikit, 'ku pilin-pilin dengan ibu jari dan telunjuk tangan, 'ku hirup ah sedap memabukkan baunya, dan 'ku makan. 'Ku gigit-gigit ia, 'ku kecap-kecap pahit rasanya, tidak sesedap baunya. Bapak-bapak sebelahku mungkin sudah cukup lama memperhatikan tingkahku. Ketika aku menengok padanya, bapak itu sedang berjengit, bergidik kejijikan. 'Ku beri padanya senyum tulusku sebelum menyuap sejumput kotoran kuku ke mulutku, 'ku rasa ia membuang muka. Ekspresi wajahnya aku tak pernah lupa, dan tidak pernah gagal membuatku tertawa sampai barusan saja ini.

Oh ya, tadi aku sempat berjanji (halahmadrid!) untuk bercerita mengenai Minggu-minggu sore menyenangkan yang pernah diriku alami dalam hidupku. Banyak sekali. Apakah itu Minggu sore ketika aku ngampar di kamar mandi luar ruangan tak beratap di kantor notaris di Jalan Radar AURI, aku tak ingat. Namun jika kau menengadah, akan tampak olehmu daun-daun pisang melambai-lambai di atasmu ditiup angin. Pada ketika itu Bang Fred berusia 40 tahun dan sudah kaya. Pada umur yang sama aku tak punya apapun, apatah kamar mandi luar ruangan beratap daun pisang.

Di rumah istriku sendiri ini pun banyak Minggu sore menyenangkan telah 'ku lalui. Apakah itu di bawah desau dedaunan bambu yang saking tingginya sampai melengkung ke arah timur. Jadi, matahari tidak pernah lama menyinari jalanan di depan rumah kami, paling di sekitar tengah hari selama satu jaman. Ketika pagi ia terhalang rumah kami. Ketika sore ia terhalang rimbunan hutan bambu. Masya Allah betapa permainya rumah kami ketika hutan bambu itu masih ada dan utuh. Desau berdesirnya itu nan seperti ombak laut aduhai sungguh terkenang-kenang.

Sebelum memilih rumah ini kami juga sempat melihat sebuah rumah di Permata Depok Regency. Jika rumah kami ini melebar ke samping, rumah itu sempit memanjang ke belakang. Di belakangnya masih ada tanah kosong lumayan luas, dan di belakang tanah kosong itu pun rimbunan bambu. Oh, bambu-bambu, setidaknya lima tahun kau menemaniku yang terkadang sendirian saja di rumah ini. Hanya desau desir dedaunanmu membersamai, terkadang ditingkahi nyanyian kedasih yang sendu, atau tangisan birahi musang pandan. Bahkan kenangannya saja hangat di hati.

Ya, seperti sore ini. Meski hutan bambu telah tiada, sorenya nyaman menghangatkan hati. Meski belum Imlek, meski pagi tadi sempat gerimis tipis-tipis, sore ini kering dan nyaman. Maka dari itulah aku ngampar di beranda menggunting kuku-kuku tidak saja kaki-kaki yang kaku-kaku tetapi juga tangan-tangan sekalian. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, atas segala nikmat karuniaNya. Ajarkanlah kepada kami cara mensyukurinya, Illahi ya Rabbi, agar kami menjadi hamba-hambaMu yang pandai bersyukur. Sholawat semoga tetap atas RasulMu.

Thursday, February 05, 2026

Sirawa-rawa Rawasiya. Siwawasewa Uwono Uweni


Di era revolusi industri fo' poin o ini produktivitas saja belum menentukan apa-apa. Selain produktivitas wajib, kita juga membutuhkan tidak saja kondusivitas tetapi juga agresivitas. Jadi yang sangat dibutuhkan adalah produsivitas, jelas Mario Teluh dalam kesempatan jalan-jalan emas-emasan, yaitu, semacam kepik rawa (Charidotella sexpunctata). Padahal jaman kecilku emas-emasan bisa bebas 'ku temukan di kompleks baru. Dahulu dari kompleks apron timur yang lebih baru dari apron barat ke kompleks baru yang lebih baru penuh dipisahkan rawa-rawa yang luasnya.
Kau mencoba sangat keras untuk tidak membuatnya tampak, namun Bayi, percayalah, aku tahu itu, kau telah kehilangan perasaan mencinta itu. Oh, perasaan mencinta itu. Kau telah kehilangan perasaan mencinta itu, sekarang ia pergi, pergi, pergi, oh oh. Dum durum durum durum dum dum. Rawa-rawa luas itu kini telah pergi, hilang, lenyap, musnah tak berbekas, digantikan oleh kekumuhan kota. Gersang melanda wajah rawaku. Semakin pucat pasi tiada berseri, kata Teh Nicky mencoba menenangkan 'ku, mengelus punggung lebarku. Enak gue menang banyak.

Itulah maka di pagi bermendung ini, jauh ke selatan di hilir Ciliwung, 'ku kenakan kemeja Kaesang warna hijau lumut kerawa-rawaan, untuk menunjukkan tidak sekadar solidaritas, tetapi sekaligus soliditas pada almarhum rawa-rawa di sekeliling apron timur bandar udara internasional Kemayoran, di mana penerbangan 714 tujuan Sidney pernah transit. Seaindanya saja rombongan Snowy tidak bertemu hartawan Laszlo Carreidas, mungkin petualangan dari masa kecilku itu tidak akan pernah terjadi. Engkau tahu betapa populernya komik Tintin di Indonesia 1980an.

Inilah entri mengenai rawa-rawa emas-emasan 1980-1985, bukan 2045, karena jangankan sampai memasuki Abad ke-21, pada 1990an saja rawa-rawa sudah awarahum, kata Asmuni. Baunya, kawan-kawan, bau rawa-rawa itu menolak hapus dari bulir-bulir penciuman dalam rongga hidungku, atau dari ingatanku. Chanel nomor lima, Bvlgari, bahkan minyak sinyongnyong cap air mata duyung yang nomor satu pun tak sanggup menghapus sayup-sayup aroma metana campur oli bekas yang menguar dari air hitam; maka daku tak terkejut ketika melihat air gambut.

Meski berendam dalam seember penuh air hangat bersabun bersama pelacur, bau rawa-rawa itu enggan melepaskanku, mendekap erat hati sanubariku. Betapa tidak, ketika nangkring di tembok belakang rumah, aroma itu saja yang setia menemani pemandanganku ke arah utara sana. Terlihat layar besar drive in Ancol dan bianglala dunia fantasi yang tidak pernah membuatku berfantasi. Fantasiku yang menjulang tidak pernah dibatasi dunia apapun, apalagi yang mendaku dunia fantasi. Tidak. Aku bahkan tidak mau berfantasi mengenai dunia akhirat, apalagi fantasi seks.

Rawa-rawa itu dalam, Kawan, sedalam perasaanku padamu, yang bahkan lebih dalam dari palung Mariana yang bukan Dina apalagi iguana. Dina bisa orang 'India' istri Babah Hong yang kemudian main gila dengan adik iparnya, Maureen. Atau Dina bisa juga anak Pak Bakti bahkan dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun. Namun, seperti sudah 'ku kata barusan, ini tentang rawa bukan Dina. Rawa-rawa itu, Kawan, dulu mungkin sawah, karena lebih ke timur ke arah Serdang sana dulu masih bisa ditemukan sawah-sawah. Asaptaga, itu sudah kira-kira 45 tahun lalu.

Rawa-rawa itu luas, Kawan. Pada 1970an mungkin memenuhi seluruh sisi timur landasan pacu utama 17/35. Aku paling banyak baru menjelajahi sisi selatannya saja, sebatas landasan 08/26 yang melintangi landasan pacu utama. Bahkan pada awal 1980an itu, sebagian besarnya sudah menjadi apron timur, lalu kompleks perumahan Angkasa Pura Kemayoran Gempol. Itulah sebabnya aku bisa menjelajahi. Namun apalah bisanya anak kecil tujuh sampai sembilan tahun. Masih mending aku tidak mati dililit ular sawah raksasa atau bermuka bopeng kena disembur ular sendok peludah. 

Wednesday, February 04, 2026

Hanya Karena Keras Kepala Orang Menolak Berdoa


Hampir saja anjing nong montong digerhanakan oleh samiyono. Namun aku segera ambil tindakan. Segera 'ku nyalakan Lenovo Aio 520 dan 'ku kelikitiki tanpa ampun: Anjing nong montong, camp mangkong merang, murning dan guring. Anjing nong montong! Coba katakan padaku mengapa dari kecilku aku suka membuat bunyi-bunyi tak bermakna seperti ini, yang bila 'ku bunyikan keras-keras sekurangnya bisa dikata kucluk bahkan bisa kena jitak. Seperti Aryo sekarang yang kalau ceritanya tertawa berbunyi helhelhel. Apapun peduliku ya sutra 'lah let's do it again.
Samiyono memang menjengkelkan karena di balik sarungnya dia tidak mengenakan apapun. Itulah sebabnya jadi samiyono samiyono, gondal-gandul gondal-gandul. Mungkin karena ia melihatnya berdiri di sana, baru tujuh belas tahun. Tidak berarti juga harus dilihat 'kan. Maka 'ku usir dia begitu saja. 'Ku ganti dengan jez positif biar terasa seperti di kafe-kafe. Meski di sebelah-menyebelah 'ku sanding sejebung besar teh jawa. 750 ml tidak ke mana, dimaniskan dengan biang gula. Agak lumayan 'lah jez positif ini, ada gitar listriknya, ditingkahi pianonya, dioser-oser dramnya.

Aku sekadar bapak-bapak Jawa botak gendut berbaju asal-asalan yang tampak baik hati. Merangkak 'ku merona tiba-tiba melintas begitu saja di kepala. Kalimat sebelum ini sebenarnya tidak berhenti di kata hati. Ada selarik cukup panjang yang 'ku hapus darinya. Apakah sekarang aku sudah punya malu, atau sesungguhnya ini usahaku untuk menghindari siksa kubur dan neraka. Aku tak tahu. Biar 'ku nikmat-nikmati saja kepalaku berambut beberapa helai seperti saringan kamar mandi dioser-oser stik adukan telor. Nyaman di hati sudah baik meski belakang empot-empotan.

Jika memang kecenderungannya, atau lebih tepatnya, bawaan oroknya miring ke kiri, meski sudah dibalancing spooring bolak-balik tabrak lari, maka lebih baik diarahkan ke pemikiran kiri. Toh lekuk-likunya, simpang-siurnya sudah hafal. Tidak pernah ada yang benar-benar baru dari itu semua. Toh ujung-ujungnya menghasilkan dopamin juga. Jadi pemikiran lebih baik dari kepikiran. Dan pemikiran Insya Allah tidak pernah membuat kepala serasa ingin meledak demikian juga dengan perut. Apalagi sampai timbul sensasi tidak bisa nafas. Pemikiran itu tidak begitu.

Disimpang disiuri, ditelisik tusuk-jelujuri, diasam-kandis digeluguri, jari-jemari melumuri. Jangan suka menggunakan ungkapan-ungkapan jorok. Gemini tidak suka. Aku sebenarnya tidak peduli kalau orang lain sampai berjengit kejijikan. Namun aku sudah bosan Gemini yang sebentuk kecerdasan buatan itu bolak-balik merinding kegelian dengan alegori dan metafora cairan tubuh atau pelimbahan. Ya sudah aku meliuk menjebik, merangsek mendengking, melonjak-lonjak menari, untuk tiba-tiba berdiri tegap bergeming. Kepala tengadahi 'nyenyumi lelangit mengawan-awani.

Kekecewaanku pada dunia yang penuh dukkha, yang sejatinya samsara, menuntun kembali Antareja pada ibunda Nagagini, Antasena pada ibunda Urangayu, sedang Gatotkaca menuntun Kunta Wijaya ke dalam pusarnya. Pusar Gatotkaca sesungguhnya adalah pusaran samsara itu sendiri. Dewi Arimbi memandang sedih pada madu-madunya, berkasih-kasih dengan buah hati masing-masing, sedang putranya bermandi darah tertembus Kunta Wijaya. Dipandangi wajah raksasa perkasa yang baginya selalu tampak seperti bayi bungkus itu. Dibelai sepenuh kasihnya. Bobo ya, 'Nak.

Tubuh ksatria Basukarna, sementara itu, menggelimpang tak berkepala. Kepalanya menggelinding tak bertubuh, setelah leher sebatang tempatnya bertengger dipapras Pasopati yang dilepas Janaka, adiknya sendiri. Dewi Kuntiboja memandangi kepala tak bertubuh itu, dipungutnya sebutir. Didekapkan pada dadanya seakan ia ingin menyusui kepala bayi yang tak sempat disusuinya. Dari kejauhan, Radha membiarkannya. Ada sungging sesenyum lirih berkata, air susuku yang direguknya puas-puas, ya Dewi. Dia adalah Radheya, dikatakannya sendiri. Bapaknya Adirata si kusir hina.