Thursday, April 03, 2025

Melodi-melodi Mimpi Italia 'Nampakkan Perhiasan


Ternyata di dalam krombuk masih tersimpan memento dari suatu petang yang dihabiskan bersama keluarga di sebuah rumah minum teh tarik. Ternyata tanpa asupan glukosa sangat sulit otak diajak berpikir. Ternyata struktur kalimat paling tua justru adalah konstruksi gunting di mana subjek diikuti objek baru diakhiri predikat. Aku selalu haus akan fakta, pengetahuan, entah sejak kapan. Dapat aku bayangkan bahkan di kumuhnya kamar sebelah ibunya nenek sihir, di rumah petakan belakang apa yang sekarang menjadi pesantren al-Hikam Kukusan, aku kehausan.
Entah sudah berapa lebaran aku tidak menghancurkan peradaban-peradaban. Lebaran ini aku tidak tepat menghancurkan peradaban, tetapi kota-kota. Jika di rumah, kerjaku tidur dan bertempur saja sambil menunggu waktu berbuka. Mendekati buka, setelah ashar biasanya aku keluar mencari-cari takjil entah apa-apa. Namun semakin mendekati lebaran dan setelahnya, jalan-jalan betapa sepinya. Sampai-sampai kambing dan orong-orong 'ku beri makan bakso sekali tiga butir seekor setelah rendang praktis habis. Sayuran campur edan karena tahu busuk. 

Dahulu kala ketika masih muda belaka tiada empunya sesiapa begini juga. Dahulu ada Dedi Sudedi sama-sama tidak tahu esok hari mau menjadi apa. Sudah tidak takut mati lagi, tidak seperti di awalnya. Di akhir dekade dua ribuan itu, sekadar tidak tahu saja mau apa. Kalaupun lulus lalu apa. Kini sudah lima belasan tahun berlalu dari waktu-waktu itu. Kini aku di tempat yang sama, pura-pura masih seperti dahulu. Paling enak bekerja di waktu-waktu seperti ini, kataku pada Bang Mansur. Aku hanya menipu diri sendiri. Semua tak sama, tak pernah sama, apa yang 'ku c'lepuk 'puk. 

Bilakah itu, di elkapeu yang sekarang sudah menjadi lkihi bersama Dedi Sudedi. Adakah aku menyetel simfoni cinta langsung dari kasetnya. Menipu diri seakan waktu masih sama, setidaknya seperti ketika di tepian Ciliwung atau pavilyun. Luka itu tidak pernah sembuh. Semua beranjak melanjutkan perjalanan, aku terjerembab memegangi perut dengan luka menganga. Semua bertanya mengapa tak kau obati, mengapa tak upayakan kesembuhan. Dengan bibir menjebik 'ku desiskan: 'ndasmu. Seperti kantong laut, aku tinggal hanya menunggu kematian John Gunadi.

Santa Maria Immakulata. Santa Maria Asumpta. Santa Maria Innosensia. Aku memanggil-manggil Ibunda Yesus Kristus seakan-akan ibuku sendiri, seperti yang dilakukan Sersan marinir Joe Enders sebelum kematian menjemputnya. Lihat, aku tidak beranjak sedikitpun dari ketika John Gunadi membaca-baca seruan perang milik Pak Bendot, yang tidak pernah dikembalikannya. Ya, karena ia sekarang bersemayam di rak buku di rumahku, setelah 'ku keraskan sampulnya, 'ku rasa, di Barel tempat Bang Ippul. Ya, 'ku rasa itu lebaran juga, ketika kami pun berjaket logam penuh.

Sendiri, seorang diri, hanya berteman senandung seruling logam. Adakah suatu cara untuk tetap cerdas barus meski perut terasa seperti habis ditonjok sersan mayor taruna. Kalau sersan taruna pasti lebih sakit dari ini. Ini mah tonjokan sayang dari mentor sendiri. Uah, aku betul-betul tidak sanggup beranjak dari kenangan-kenanganku sendiri. Dikata buruk tapi kok pahit-pahit manis seperti senyuman karamel. Dikata manis tapi kok pedih-pedih nikmat seperti koreng hampir sembuh digaruki dithithili. Aduhai ini apa serenata manis begini yang datangnya dari hatiku sendiri.  

Di atas langit-langit kamar hama padi ada cemeng ditinggal induknya. Setiap terbangun menangis ia memanggil-manggil induknya. Bagaimana drama ini akan berakhir. Akan ia berakhir dengan bau busuk selama kurang lebih seminggu sampai dua minggu. Biarlah terangnya rembulan melupakanku dari drama yang belum jelas tragedi atau komedinya ini. Sekarang bahkan sudah ada Rembulan yang gelap kompleksinya, yang Akung tidak sempat melihatnya. Aku selalu yakin akan datangnya hari ketika Akung dan Rembulan akan saling bertemu dalam keadaan terbaik.

Terang bulan, terang di hati 

Monday, March 31, 2025

Bebatuan Pijakan ngaIdul Fitri 1446 H. Takbirannya


Awal-awal masih stereo, namun di tengah-tengah berubah mutu. Apakah pembukaan ini lebih baik daripada apakah pantas lebaran-lebaran memandang melalui jendela kecil demi melihat langit di sebelah barat bermendung. Memang segala sesuatu ada waktunya, sebagaimana segala waktu ada sesuatunya. "Tinggal menunggu waktu," itulah prentah wasiat yang diberikan oleh Abangda Profesor Safri Nugaraha Allah yarham, yang 'ku pegang teguh hingga sekarang. Abangda Donbangi Dontiba Allah yarham juga telah tiada. Tinggal lagi Abangda Profesor Kurnia Toha. 'Tu.
Astaga, dengan kualitas analog begini justru semakin melangutkan jiwasraya. Dapat 'ku bayangkan Bapak beberapa tahun lebih muda dari 'ku kini, mengemudikan maestro sambil mendengarkan flut cantik ditiup seorang perempuan berkerudung lembayung. Uah, dari mana datangnya serenata tanpa jiwasraya ini. Tidak ditiup ia oleh perempuan itu, sehingga tidak pernah terdengar baik di radio dalam, cimone, radio dalam lagi, maestro, atau sebelah manapun tepian ciliwung. Padahal membelai menyamankan begini, seperti belaian ibu yang tidak pernah aku rasakan.

Bukan karena ibuku tak sayang padaku. Alhamdulillah ibuku juga masih segar-bugar dikaruniaiNya kesehatan lahir batin. Hanya saja tidak begitu cara beliau menyayangiku. Masih untung ada istriku yang suka membelai menyamankanku sekali dua, jika ia sedang tidak disibukkan dengan tugas menjodoh-jodohkan manik-manik kerajaan. Serbuan kantuk karena tidur kacau datang merayapi kesadaran. Semoga kelak ketika 'ku baca lagi sendiri entri ini, aku ingat bahwa penyebabnya adalah malam takbiran. Aku bahkan tak ingat ada orang gila di bukit dalam flut cantik. 'Ku paham.

Ya sutra lah let's do it again. Setelah naik sebentar, melahap potongan-potongan kecil ketupat ada sepuluhan, sayur pepaya dua macam, udang sambal batak dan dendeng lambok, perutku penuh lagi. Padahal tadi, setelah lasagna dan pastel tutup masing-masing sepotong kecil, enam biji pempek kecil membuat perutku penuh, sempat agak mengempis setelah segelas besar teh hijau. Dalam suasana begini apalagi kalau tidak makan, sedang besok masih harus makan lagi. Umur sudah terlalu banyak untuk makan lagi dan lagi. Makan sudah terlalu banyak untuk umur sebaya 'gini.

Ramadhan ini sungguh mengerikan. Semoga Allah menyampaikan 'ku lagi pada Ramadhan berikutnya, dalam keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang ini lahir dan batin. Saat ini, cukuplah bagiku bersyukur dapat mendapat selingan meditasi dari Thais seperti bapakku dulu. Bapakku bukan penggemar opera sepertiku apalagi Andrew Beckett. Aku pun bukan seorang litigator top seperti Andrew meski sama-sama sarjana hukum. Jelasnya, padaku tidak ada lesi-lesi akibat terkomprominya kekebalan tubuh. Aranjuez cintaku selalu bersama sejak Francis Gayo. Iwan Goya...  

...adalah penyusun buku pintar yang terkenal itu, baik yang junior maupun senior. Bahkan yang senior teronggok begitu saja entah di rak mana perpustakaan bidang studi hukum administrasi negara yang semakin mengecil. Apa rasanya menemukan buku pintar ketika sudah kuliah. Mengapa dahulu aku tidak terpikir sama sekali untuk kuliah. Mengapa aku justru bergabung dengan akademi angkatan laut terkutuk itu. Kini aku punya jawabannya, untuk pertanyaan-pertanyaanku sendiri itu, yang tak seorang pun sudi menanyakannya padaku. Tidak menjadi apa pula begitu.

Bahkan perpus lama bidstu HAN 'ku rindukan, di sudut itu sering 'ku sendiri saja. Sejak jaman itu aku telah sering berebutan dengan Bu Cici dan Hari Pras. Jaman itu t'lah berlalu. Savit sudah jadi lektor, aku masih asisten meski ahli. Jadi semacam ass professor second class begitu. Jika mau kebanyakan gaya, kepangkatan akademik di Indonesia bisa semacam ini: (i) ass professor second class/ IIIA; (ii) ass professor/IIIB; (iii) assistant professor second class/ IIIC; (iv) assistant professor/ IIID; (v) associate professor second class/ IVA; (vi) associate professor (IVB); professor (IVC). Aku? Ass professor, as in jackass, or, ever better, asshole.

Wednesday, March 26, 2025

Estrogen 'mBanjiri Aliran Darah. Testosteron 'Netes


Awas, jangan sampai lupa bahwa baru saja engkau mengendus masa mudamu dengan tasbih bermanik kuning fluoresen bahkan jam saku. Tidak mungkin juga engkau berharap masa muda tanpa ketololan karena masa muda memang waktu untuk tolol. Masa tidak sadar juga kau betapa puisi harus dideklamasikan seperti ayat-ayat Quran harus ditilawahkan. Akan tetapi, yang baru saja 'ku endus berasal dari waktu yang lebih dekat, dari Bang Ian sepulang haji agak setahun lalu atau lebih. Lucunya, terlintas masa muda tidak menimbulkan sensasi membuncah seperti dulu.
Tiba-tiba saja aku dijerembabkan kembali ke pojokan jaga DaviNet dari hampir 25 tahun lalu. Ya Allah betapa panjang waktu tololku. Tolol tak habis-habis bahkan sampai hari ini. Aku bergairah sendiri dengan segala sastra lisan, hak ulayat masyarakat hukum adat, konservasi tradisional padahal aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Aku sekadar tabib pengobatan tradisional karena cerdasku bukan cerdas yang biasa-biasa. Cerdasku barus, maka begitu saja 'ku hisap sebatang djarum super boleh mencatat dagangan Daud. Ya Allah betapa mengerikan waktu-waktu itu.  

Ketika bahkan aku enggan berdua-duaan saja dengan goblog ini, itu lebih mengerikan lagi. Sedang goblog ini adalah temanku satu-satunya yang tidak pernah mengecewakanku, selalu ada untukku. Sekarang pun ia tidak mengecewakan, dan seperti biasa di sini saja tinggal diakses. Syukurnya ada akses internet. Aku sudah terlalu terbiasa dengan akses internet di mana-mana ke manapun pergi. Bagaimana kalau tiba-tiba tidak ada. Rp 63 ribu yang 'ku belanjakan setiap bulannya hampir selalu percuma karena tidak pernah benar-benar habis. Di rumah ada, di kantor apa lagi.

Seperti biasa, aku di pojokan akuarium sini seperti seekor ikan sapu-sapu yang sudah kawak. Bedanya di luar sana panas terik dan aku baru saja bersin. Semoga baik-baik saja. Suasana hati seperti ini jangan sampai ditambahi dengan rasa badan yang tidak baik-baik saja. Mengapa harus 'ku ratapi hutan bambu yang sudah diberantas dibasmi. Mengapa harus diratapi tetangga belakang yang menembok rumah tinggi-tinggi sampai bertingkat. Mengapa harus dirindukan rumah yang lengang karena hewan-hewan masih dipegangi kecoa erat-erat. Memandangi kanal rindu.

Seperti biasa, jika aku kembali kepadamu, maka aku teramat sangat kesepian. Kemarin sekali lagi yang dibawakan oleh palank merah selalu membawaku ke ujung timur lapangan aru yang bekas landasan pacu itu. Untung tidak lama, aku segera terlempar ke Crea atau kamarnya Japri di Kraanspoor. Namun kini begitu saja aku terhembalang ke dalam akuarium lagi gara-gara cantik kesurupan perjodohan kerajaan. Jika tidak sibuk menjodoh-jodohkan demi mempercantik istana raja entah-entah, ia sibuk mendengarkan entah apa-apa. Begitulah aku kembali lagi ke akuarium ini.

Apapun itu, ini jauh lebih nyaman dibandingkan hari-hari mengelilingi pulau warga laut, yang di salah satu pojokannya ada restoran hadok. Ketololan memandangi jendela dari tepi jalan. Namun pada saat itu pulau warga laut masih kosong. Kini sudah penuh. Akankah aku tetap menyukainya setelah penuh begini. Adakah aku menyukainya ketika masih kosong dahulu. Jelasnya, aku selamat dari waktu-waktu itu, sampai-sampai aku dapat mengenangnya sekarang ini dalam akuarium begini. Baru lima sudah berhenti itu seperti Ronalzie dulu kala tes Akabri.

Ini bukan Amsterdam yang jaraknya belasan ribu kilometer dari cantik. Ini hanya akuarium yang sekitar sepuluhan kilometer jauhnya dari kasur dan bantalku sayang. Meski sudah kubeli nasi gudeg telor masih pakai tahu bacem dan acar kuning, bisa saja aku pulang setelah ashar, mampir dulu di tempat gorengan membeli beraneka ragam tempe, tahu, pastel, dan lontong isi, lengkap dengan bumbu kacang sekaligus. Makanan Akmil aku sudah lupa tepatnya seperti apa, namun segala makanan akan kehilangan kenikmatannya, seperti segala sesuatu. Sampai tetes testosteron terakhir.

Sunday, March 16, 2025

Hari yang 'Ku Sangka Takkan Pernah Lebih dari Satu


Ketika 'ku melintas di mulut Haji Nawi tadi, terlintas suatu nostalgi yang mendalam padaku dari lebih 20 tahun lalu. Kala itu mungkin lepas Maghrib, yang ada baru Pakin. Itu pun tiada. Jangankan Bunbun, Adjie saja belum ada kala itu. Ibu mengutusku membeli capcay dan mungkin menu lainnya lagi. Aku ingat badanku terasa segar ketika itu, sehabis mandi. 'Ku rasa aku naik Metro Mini S.72, yang waktu itu sudah belok kanan ke arah Pondok Indah lanjut Lebak Bulus. Berarti aku berjalan kaki ke gerobak pinggir jalan itu, s'orang lelaki akhir 20-an yang hancur-lebur.
Seorang lelaki pasti mengalami berbagai-bagai kejadian dalam hidupnya. Kejatuhanku, kebangkitannya kembali pasti tidak ada apa-apanya jika dibandingkan lebih banyak lelaki lain di dunia sepanjang sejarahnya. Sayangnya aku lupa menu selain capcay yang 'ku beli petang itu, apakah Bapak juga ikut dahar. Pada ketika itu, Bapak kira-kira seusia Pak Hadi Reog sekarang. Masih jos seingatku, sedang ikut bertempur dalam perang maskapai penerbangan sepanjang 2000-an di Indonesia. Aku kini bahkan lebih muda dari Bapak kala itu; se-Bapak ketika Pakin dalam kandungan. 

Kini aku di dalam akuarium lagi, memandangi jalan profesor Nugroho Notosusanto, sayap kanan atau utara Masjid Ukhuwah Islamiyah yang diguyur hujan. HP-11CB menyenandungkan lamat-lamat hujan dan air mata, meski tak setetes pun membasahi pipi siapapun. Puji syukur 'ku panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menurunkan hujan setelah aku selamat sampai di dalam akuarium, atau mungkin lebih tepatnya terrarium atau herbarium. Semacam kandang reptil yang ada di Ragunan itu. Aku di dalamnya memandangi hujan mengguyur pelataran.

Meski sudah banyak sekali celoteh kode 'ku hamburkan di sini--celoteh, karena tidak bisa dinyanyikan--aku terus saja melakukannya sampai detik ini. Hujan mereda begitu saja, ditingkahi guruh di kejauhan agak dekat. Tiba-tiba terlintas kenangan Bapak mundut soto tangkar sedang samparannya bengkak, lenggah di kursi roda. Sedang aku tentu saja semacam nasi ramesan, entah mengapa tumis jamur tiram cabai hijau yang ada tahu gorengnya terbayang, meski mungkin cuma khayalan orang sedang puasa saja. Guruh guntur bersahut-sahutan sendu dari arah barat.

Aku selalu tahu ada tuba atau sousafon meningkahi bait-bait kedua dari anak-anak buku cerita, sebagaimana aku dapat menduga bahwa Sandra dan Andres--seperti halnya kucing-kucing Volendam--bukan orang-orang yang berbahasa ibu Inggris. Meski harus 'ku akui, aku tidak pernah menduga kalau permintaan untuk tersenyum bagiku diajukan oleh macan-macan Jepang. Hahaha kode-kode epik yang takkan terpecahkan meski dengan enigma sekalipun. Hanya yang memiliki kenangan-kenangan manis keemasan yang dapat menguraikannya, bakteri takkan sanggup.  

Ketika 'ku sangka hujan sudah sepenuhnya reda, ia turun lagi, membuat sedih orang-orang yang tidak membawa payung. Semoga mereka tidak memaki, malah mendesah membumbungkan ampun kepada Sang Pengampun di bulan suci Ramadhan 1446 H nan mulia ini. Masya Allah, hujan kembali deras. Ketika 'ku ingat-ingat tahun-tahun awal 2020-an, begitu saja aku ngeloyor entah sejak kapan. Sejak sate entah-entah setusuk dengan lontong beberapa potong seharga 50 Rupiah sampai nasi uduk bala-bala bersiram kuah seharga itu, aku suka caramu mencintaiku.

Begitu saja dalam satu alinea hujan reda lagi. Untung aku belum pergi ke Alfamart Psiko. Lagipula jalan ke sana sekarang pasti sudah becek-becek. Apa yang dirasakan Bapak ketika masih tinggal di pavilyun atau kamar tengah jalan radio dan ketika kembali ke sana di akhir abad ke-20. Seberapa berbedakah, setelah berbagai kesakitan dan tentu juga kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Jelasnya, pada saat itu, saat seumurku ini, Bapak sudah haji. 'Ku rasa Bapak tidak pernah umroh seumur hidupnya. Seperti itulah aku juga. Aku ingin haji sekali saja meskipun jatah diktator.

Friday, February 28, 2025

Sekadar Biar Februari Ada Entrinya. Masakan Tidak


Ini sesungguhnya adalah waktuku mencoba menulis mengenai pagar laut misterius. Jadi tidak mungkin aku menulis entri seperti ini. Ya, kau boleh menduga ini retroaksi. Biar saja. Apa harus 'ku catat di sini petualanganku Selasa kemarin ke Sampoerna Strategic. Jelasnya, aku berangkat dengan perut penuh entah nasi uduk atau kuning, entah bercungkring atau tidak, dan mungkin gorengan dua potong sekaligus: tahu dan tempe berselimut tepung. Aku tidak seberapa ingat perjalananku dengan kereta, tapi aku ingat ketika turun di Tebet. Udara 'duhai panasnya ketika keluar stasiun.
Ketika itulah pandanganku tertumbuk pada antrian naik JakLingko 48A, yang seharusnya bisa mengantarku gratis sampai Sampoerna Strategic. Mengantri dalam udara panas seperti ini? Tidak 'lah. Entah bagaimana caraku berpikir, begitu saja aku nyelonong terus ke Upnormal, memesan GrabHemat, tidak dapat-dapat. Ada dua kemungkinan, pikirku. Satu, siapa juga yang mau ambil orderan hemat, tidak usah hemat saja uangnya sudah sedikit. Dua, Upnormal berada di sebelum putaran, jadi pasti sulit menjemputku. Majulah aku ke Bebek Kaleyo, di situ aku dijemput Bu Tia.

Masih harus diteruskan? Bu Tia mungkin seumuranku, menilik dari musik-musik yang didengarkannya melalui radio mobil. Kami tidak banyak berkomunikasi sepanjang jalan itu. Aku bahkan sempat tertidur. Singkat kata, sampailah aku di Sampoerna Strategic itu. Sebuah gedung megah yang dibangun di atas uang orang-orang tolol ahli hisap. Beberapa di antara mereka mungkin sudah isded gara-gara penyakit-penyakit degeneratif. Hidup ini sudah berat, Bung, mengapa kau tambah lagi dengan kebiasaan-kebiasaan yang buruk lagi membunuh seperti merokok.

Gila, tiga paragraf koheren mengenai hidup sehari-hari yang biasa-biasa saja, itu-itu saja; karena merintang masa, melanglang buana, meretas raga membutuhkan energi yang sangat besar. Kau harus membuncah, menggelegak. Kau harus meletup-letup, meledak membahana seperti lumpur lapindo. Astaga, hidup yang cuma begini-begini saja. Hidup adalah membahagiakan orangtua, Ibu dan Bapak. Hidup adalah berusaha menjadi seorang suami atau istri sebaik yang kau bisa, bapak atau ibu bagi anak-anakmu. Itu sudah. Terkadang ada waktumu bergemuruh, mau apa.

Lantas kalau tidak mengenai hidup sehari-hari, mengenai apa. Kebat mengebit di sejuknya akuarium dengan pemandangan pelataran, Jalan Profesor Doktor Nugroho Notosusanto dan sayap utara/ kanan Masjid Ukhuwah Islamiyah. Astaga, menyelesaikan yang kurang tiga ini saja butuh berhari-hari, sedang nyaris tidak ada sesuatu pun cukup baik yang dapat 'ku katakan mengenai forum terhormat itu. Apa 'ku ceritakan saja perjalananku ke Jalan Taman Kebon Sirih III agak di seberang Masjid al-Ihsan. Sepulang dari sana naik grabcar lama sekali sampai ke Cerita Rasa. 

Apa perlu 'ku tulis di sini sempat berhenti di pinggir Jalan Pattimura untuk kencing di pohon, seperti anjing. Benar-benar ini sekadar agar Februari ada entrinya. Masakan tidak. Dari entah berapa judul buku yang sudah 'ku baca dalam hidupku, entah berapa banyak teman yang 'ku punya. Rasanya seperti kembali ke awal 1996, belum genap 20 tahun umurku. Tolol tak terperi. Sedang kini sudah lebih dari dua kalinya saja masih tolol, apalagi pada saat itu. Berenang-renang diriku mengarungi lautan malam, mencicipi berbagai hidangan malam yang berpeluh berbisa.

Mengapa pula masih 'ku lakukan ini, mengitiki. Sebabnya, aku tak punya teman. Aku kesepian. Bahkan Ahmad Dhani pun kurasa kesepian ketika istrinya lebih memilih menghabiskan waktu menonton drama korea. Di sini aku merasa lebih beruntung darinya karena istriku sekadar mencocok-cocokkan permata mutu manikam sambil terkadang mendengarkan gosip-gosip politik. Tidak juga semata karena kesepian. Ini kesepian hakiki. Kekosongan yang tak hendak diisi, seperti hawa terperangkap rumah kosong yang pernah dipakai bermain jailangkung jailangse. Apasih apase.

Monday, January 13, 2025

Entri Ini Sampai Selesai Belum Ada Judulnya. Sudah


Rasanya seperti tersasar, berbaring dalam pelukan. Itulah jika daya cinta bekerja. Kalau daya kuda lain lagi. Mengapa aku tidak bisa membuat kalimat yang pendek-pendek saja. Mengapa kepalaku tidak bisa berhenti membuat bunyi-bunyian tak berbentuk tak bermakna. Mengapa tuyul anti pesawat udara terdampar di jalan masuk terminal Cimone yang sudah berubah menjadi embung. Mengapa perutku menggembung. Terkadang aku takut, tapi aku siap belajar mengenai daya cinta. Sudah dari sekitar 35 tahun yang lalu sebenarnya, ketika gitarku baru setaraf burung kakatua.
Dua nama muncul jika berpasokan udara: Syukran Wahyudi Makmun dan Abdul Qodir bin Agil. Uah, kenapa batangan semua, tak sedap dipandang mata hati. Bahkan malam-malam menjadi lebih baik ketika saling mendua, dua-duanya perempuan. Jika perut menggembung begini sulit bagi hati untuk mencinta, maka kembali saja aku ke Cimone Gama I No. 26. Pasokan udara bersampul dominan ungu, salah satu dari oleh-oleh yang jarang sekali dibawa pulang bapak. Itulah. Bapak memang tidak pernah punya cukup uang sepanjang hidupnya untuk seperti-seperti itu.

Apalagi malam ini, 'ku rasa aku memang sudah kelas tiga. Mustahil aku asal-asalan mainan compo pemutar kaset dek ganda di ruang kegiatan bersama (RKB) jika aku belum yang paling senior. Dari mana 'ku dapatkan kaset kosongnya, 'ku rasa beli ketika pesiar. Apa malam minggunya, lalu Minggu kuduplikasi kasetnya Syukran ke situ. Begitu pula kaset Nat King Cole Bu Eko, bagaimana aku sampai bisa tahu beliau kagungan itu. Mana teh yang 'ku sanding rasanya mirip-mirip dengan teh manis jambu RKB, atau perasaanku saja. Ah, kurang dua orang kesepian di dunia malam ini.

Sebagai seorang pahlawan kekuatan dan sihir, sudah pada tempatnya jika aku memakai artefak. Sejauh ini aku punya tiga artefak, yakni: (1) cincin giok Aceh wasilah kesehatan lahir; (2) kalung kinyang air wasilah kesehatan batin; (3) cincin akik hijau Tasik penghimbau keberuntungan. Tidak 'ku pakai semua hari ini, hanya giok Aceh dalam gambar di bawah. Gioknya Aceh, tehnya Tong Tji Tegal, badannya sehat segar sarira, hatinya lega lila mau sekalian dikawin atau dibeginikan tiap hari juga tidak apa-apa. Ngomong asal sembarangan njeplak memang sedapnya aduh terasa.
Sebuah entri jika ilustrasinya sampai dua berarti istimewa meski tidak juga. Di jagad gondrong ini, istimewa dan biasa seia-sekata seperti yoni kemasukan lingga. Yoni berkata lingga mengangguk-angguk mengiyakan sambil berseru trilili lili lili lili. Di sini aku kembali ke G10 bersama almarhum Ari Setiawan yang entah bagaimana datang-datang sudah bawa kaset. Apa ada pemutarnya juga aku lupa. Namun dari mana lagi sampai terngiang berbagai-bagai Iwan Fals sampai Def Leppard jika tak'da pemutarnya. Berani sekali kopral, aku pun baru punya walkman kelas dua.

Ari Setiawan nyatanya tidak bisa hidup, jika hidup itu tanpa aku. Setelah berdinas ia sempat mengirimiku email. Meski sekamar waktu kelas satu, 'ku rasa aku tidak pernah benar-benar akrab dengannya. Bagaimana Apix Prihantoro dan Budi Agus Dharma yang sejak TK sampai elek selalu bersama, bahkan sekarang masih sering ketemuan. Di sini baru 'ku sadar, aku tidak punya teman. Temanku hanya macan gondrong ini yang tiada lain adalah diriku sendiri. Apa yang 'ku kira teman selama ini ternyata kesendirian dan kesepianku sendiri. Cinta muda sudah sejak kelas 4 SD.

Memilikimu dekatku seperti ini sungguh sedapnya, mau dipandang dari sebelah manapun. Aku terbiasa denganmu yang seperti sekarang ini. Aku tidak punya kenangan apapun ketika kamu kurus. Agak lebih kurus dari ini mungkin pernah, tapi aku tidak begitu suka. Aku sukanya kamu yang sekarang ini, meski kau kata aku menggelitiki. Biarlah begini. Biar hidupku berakhir dengan kenangan ini. Aku belum lagi tahu adakah kenangan dibawa mati atau tidak, seperti mimpi yang masih teringat setelah bangun. Dibawa atau tidak, aku mau kamu yang seperti ini, Cinta.

Sunday, January 12, 2025

Terasi Terasing. Terasering Terasingkan. Akunya Ini


Jika bicara mengenai terasingkan, ingatan melayang ke rumah sakit jiwa pusat Magelang. Udara dingin, hanya kaki tertutup sarung tipis, hanya mengintip dari lubang angin. Untuk menambah denyut-denyut di kening di pelipis, satu botol rum Jamaika hampir habis tertenggak, entah berapa bungkus rokok. Beberapa tahun sebelumnya masih lengkap di situ semua, pada saat itu belum timbul minat. Baru setelah di Jombor yang ketika itu masih banyak sawahnya, aku mulai berminat pada persawahan, pada monumen Jogja kembali. Tidak pada Jogjanya, sampai kapanpun takkan.
Jika bicara mengenai terasingkan, ingatan melayang pada Iglesias, meski sekebit mengenai Sastra Jendra tiba-tiba kebat-mengebut. Dosa itu adalah konsekuensi logis dari kepolosan, dari keluguan yang dicemari kerakusan akan dunia. Kau harus disakiti dulu oleh dunia, baru kemudian engkau akan luput dari dosa, mungkin. Kesanggupanmu untuk mengulum senyum ketika dunia menyakiti, itulah yang menerbitkan cinta. Ah, ini mah tragedi buah apel. Kau merah sangat menggairahkan, terkadang hijaumu lugu. Anggunmu nan sombong, congkakmu seketika. Itu mungkin Kaikesi dulu.

Balik lagi, mengapa harus Iglesias. Bagaimana tepatnya hubungan antara terasingkan dengan Iglesias. Entahlah. Yang jelas bukan Hendro meski dia gaya-gaya-an suka pistol-pistolan dan bebungaan mawar. Uah, mana keponakanku diberi nama Endra oleh bapaknya. Sudah pada tempatnya jika Dave Koz merendisi bisikan sembrono, karena jilatan saksofonnya memang ikonik menuju legendaris lutung kasarung. Apa lantas jika aku ada keturunan Sirajalontung itu artinya aku lutung kasarung. Apa jika aku bermimpi basah dengan Karina Sukarnoputri takdirnya lantas jadi istriku.

Apa karena Karina adik tirinya Megawati lantas mereka Purbasari dan Purbararang, sedang bapak mereka Prabu Tapa Agung. Apakah buku tafsir mimpi lotere merupakan referensi yang sahih untuk menarik simpulan apapun, terlebih yang berpengaruh pada suksesi kepemimpinan sebuah negara. Pertanyaan demi pertanyaan menderu campur debu, sedang kurang-lebih seperti itu Alexander Pulalo menarik simpulan. Betapa banyak nama disebut hanya dalam satu entri ini, benar-benar goblog siga Ade Londok eumam odading Mang Oleh raosna anjing siga jelema beusi.

Pagi ini aku terbangun dengan langit menangis merintih-rintih, bahkan ketika 'ku memacu variosua rintihannya membasahi dada, perut, dan pahaku. Mencolok anjungan tunai mandiri hanya 'tuk lupa sudah membeli candesartan 16 mg dan bisprolol 5 mg masing-masing 90 tablet, amlodipine 5 mg 180 tablet masih ditambah ongkos kirim Rp. 65.500 dari pasar bersih Sentul siti. Siti Hajati, Siti Erna dan Erni hahaha cara berpikirku sudah seperti Mas Toni... Edi Suryanto. Bentuk dan bunyi, 'Gar, bentuk dan bunyi, bukan makna. Apatah kau kira hebat merangkai makna.

Tiga yang menjadi etnis, eksotis, ironis, dan mungkin sedikit berkumis karena kau, direktur rumah sakit jiwa Pakem! Kau atau entah siapa yang mengatakan bahwa kewarasan adalah kesepakatan. 'Ku rentangkan kedua lenganku ke langit yang menangis tersedu-sedu, mukaku tengadah menadahi tumpah-ruahnya air hujan. Tiada mata-mata padamu, Langit. Hanya kelabu gelap kehitaman, namun 'ku yakin hatimu seputih salju yang belum terinjak-injak. Salju pertama yang jatuh seperti keperawanan yang hilang di malam pertama, bukan sembarang malam entah di mana.

Bunyi, 'Gar, dan bentuk, meski paragraf di atas bentuknya kurang cantik. Namun apalah arti kecantikan tanpa rambut indah, apalah arti rambut indah tanpa kecantikan: siaran niaga bagian pertama. Jika radio-radio siaran swasta di Jakarta saja baru beringsut-ingsut bermigrasi ke FM pada 1987-1988, pada saat itu kau menyadari betapa sementaranya dunia. Suara Irama Indah 101.250 FM Stereo adalah yang pertama, disusul Bahana, lalu Ramako, lalu Sonora. Lalu televisi [siaran] swasta. Siarannya tak disebut karena televisi tak pernah untuk komunikasi antarpenduduk. 

Saturday, January 11, 2025

Anak-anak Kurang Ajar Naik Mobilpasir Malrongsok


Ada dorongan kuat untuk segera mengitiki di Sabtu pagi menjelang siang yang cerah ceria ini, apatah sekadar agar terdorong satu entri ke bawah, karena muka 'Teh Iis begitu mengemuka hahaha. Jam keemasan ini bahkan lebih cantik dari jam rawan, ketika ajar-ajaran Mbak Wiew untuk menambahkan dobel 's' di depan URL lantas mengolahnya dengan Audacity bahkan sudah usang kini, setelah lampau 10 tahunan. Daripada terus-terusan dituduh cokolatos padahal cokelat Belgia, ya sutra 'lah 'ku kontankan hari ini. 'Ku kitiki ditemani secangkir cokolatos biar tahu rasa.
Meski kini sudah dibasuh dengan air hangat secangkir yang sama. Pagi ini 'ku terbangun dengan rasa  sakit pada rahang kiriku jika digunakan untuk membuka-tutup dan rasa tidak nyaman secara umum di sekujur tubuhku. Biar semua orang tahu jika pagi-pagi 'ku mulai hari dengan ngejogrog bahkan klesetan di depan tivi menonton-nonton yutub entah apa-apa. Badan terasa dingin serasa ingin tidur lagi, 'ku paksakan mengenakan celana sirwal dan jaket agar jangan sampai kehabisan ayam kecap boleh 8000-an perak, ternyata tak ada ayam goreng serundengnya, atau belum.

Barang siapa mengenalku pasti tahu (halah!) ayam-ayam ini bukan untukku, meski 'ku beli bisa sampai enam potong sekaligus. Kalaupun aku membeli juga di situ, biasanya nasi sayur telur pedas pepes tahu. Biasalah standar NATO. Namun pagi ini aku bahkan tidak membeli sayur labu siam bertempe di situ. Cukup ayam kecap lima potong Rp 40 ribu, bergeserlah ke tukang nasi uduk. Nasi kuning kentang tempe orek bihun telur dadar Rp 15 ribu. Nasi uduk kikil telur tahu semur mie Rp 15 ribu. Empat potong tempe goreng berselimut tepung Rp 5 ribu; 'tuk makan sehari lima orang.

Akan halnya motor bebek meluncur menjauhi matahari terbenam, itu karena sampul jam keemasan Cory Wong dan Dave Koz. Jujur, sampai hari ini aku tidak paham kebijaksanaan merilis singel atau album sekalian, seperti halnya mengapa Dedy Corbuzier membuka Gadang Barubah di Cikarang. Namun tidak semua harus 'ku pahami, meureun. Mamank Kuliner dan Yudo Boengkoes sudah mencobanya. Kecuali tidak sengaja yang teramat sangat parah, tidak mungkin aku sampai Pollux Mall Cikarang. Castornya mana. Di NDSM juga tertambati Pollux tanpa Castor.

Lihat, alih-alih penasaran dengan mall bernama Pollux di Cikarang, aku lebih terganggu dengan kenyataan bahwa di sekitarnya tidak ada Castor. Akan halnya aku tahu bahwa di dermaga NDSM tertambat sebuah kapal bernama Pollux sedangkan di sekitarnya tidak ada kapal atau apapun bernama Castor, itu semata karena tugas negara. Akan halnya Dave Koz menemaniku sepagi ini sudah satu album lanjut berikutnya, itu karena aku memang gaya-gaya'an. Uah, dengan iringan sesedap ini seharusnya aku berpujasastra, tapi aku malah mengitiki ketiak sendiri begini. Tetidak geli.

Bersama lagi versi asli terasa sangat ngepop jika dibandingkan aransemen dan rendisi bersama Cory Wong. Uah, ternyata menari dirilis tepat pada hari kelahiran anakku sayang satu-satunya. Tahukah Dave Koz pada saat itu, bahkan sampai hari ini, aku bukan seorang bapak yang jahat. Aku sekadar tolol, terbelakang mental. Aku mengazani telinga kanan dan mengqamati telinga kiri anakku. Aku mencari uang sedapat-dapatku untuknya, meski dengan cara-cara tolol khas bapak-bapak terbelakang mental; mungkin juga lemah mental, alias keple. Aku terduduk di becekan.

Anakku, kau membuatku tersenyum. Anak-anakku, kalian selalu membuat bapak botak melar ini tersenyum. Huh, apa aku jadi Kapten Mlaar saja. Kau tidak akan suka jika aku sampai jadi Kapten Mlaar. Bagaimana kalau ketika itu ada yang masuk kamar depan atas itu. Betapa jika lain lagi yang 'ku tulis di sini, kau tahu yang 'ku maksud adalah kamar yang dari jendelanya terlihat seorang anak yang setelah beberapa tahun membesar. Dari jendela itu pula entah aku sendiri atau ibu pernah melihat anjing menggonggongi tiang listrik lalu melolong. Malam musim panas nirakhir.

Friday, January 10, 2025

Kambing dan Orong-orong. Hama Padi Musuh Tani


Don't know Kenji Sano? Kasih no! Maka 'ku kembali ke kelas 5 SD jika aku ingin lari kepadamu ketika 'ku kesepian, meski sejak 1 Oktober 1984 ambiens itu berakhir. Tidak heran, ketika Uti berulang tahun yang ke-69 terlihat sendu, meski aku ndengguk mbedegut begitu, dan seperti biasa, menyanyikan lagu panjang umurnya dengan suara paling keras di antara sepupu-sepupuku. Ketika itu aku pasti pulang lagi ke K28, meski beberapa bulan kemudian, tepatnya 31 Maret 1985 semua itu berakhir. Ambiens yang telah bersamaku selama hampir 5 tahun hidupku sejak usia 4 tahun. 
Itulah waktu-waktu ketika kesedapan yang 'ku tahu sekadar bunyi yang dibuat ibuku melarutkan susu bubuk dengan sedikit air panas, mengaduknya dengan sendok dalam gelas beling. Sayang aku tak bisa mengingat gelas seperti apa. Aku hanya ingat gelas strawberry shortcake hadiah softex, meski seingatku tidak untuk membuat susu. Sampai hari ini suara yang dibuat oleh sendok mengaduk larutan kental bubuk minuman dalam gelas selalu membawa rasa aman nyaman. Begitulah kenanganku mengenai kasih-sayang ibu kepadaku. Sedapnya susu gula manis (SGM)... 

...yang ketika aku naik kelas 4 SD, meninggalkan selama-lamanya ambiens pemberi nyaman, justru menjadi olok-olokan. SGM kepanjangannya sinting gila miring, padahal Sarihusada Generasi Mahardhika, yang memproduksi susu Milco juga. Segala kenangan berkecamuk bercampur aduk dalam benak serasa digulai, yang berakhir pada simpulan hidup begini-begini saja. Seperti bapak ibu dahulu membelikan kami botol minum savas yang bentuknya ajib, warna abu-abu, ergonomis mengikuti lengkung tubuh. Di mana ya belinya, esa mokan, esa genangku, wia-niko...

Pasti begitu juga prosesnya, semalam, dua malam, seminggu, sampai paling lama dua tahun, kami menemani Akung di kamar yang dulu biasanya untuk Akung dan Uti. Seingatku Akung lebih sering sare lebih dulu daripada kami, karena kami sering menonton filem sampai malam-malam. Jika Akung sudah sare lebih dulu maka kamar sudah gelap, maka 'ku buka sedikit gordijn yang menutup pintu ke teras, membiarkan cahaya lampu teras masuk agak lebih banyak lagi. Aku sama sekali tidak ingat bagaimana cara kami bangun pagi untuk sekolah atau ketika libur. Jinjja.  

Kini hidupku adalah kambing dan orong-orong ramai datang ke sana bila aku membawa sekantung dua kresek berisikan entah soto betawi atau makanan-makanan speysyal lainnya. Setiap malam pun aku masih mengatur-atur seberapa banyak rolgordijntjes 'ku ulur atau 'ku gulung, rolgordijntjes yang sama hijau dengan yang ada di kamar sewaan di Sint Antoniuslaan. Rolgordijntjes yang kubayar bersama zwarte tapijt ketika masuk, namun tidak berhasil 'ku jual kembali ketika keluar. Lucu sekali memang ingatan-ingatan ini. Begini-begini aku ingat sangat, sisanya lupa.

Lantas troli belanjaan itu, seharga hampir EUR 20, yang pernah 'ku bawa berak di stasiun, seingatku hanya sekali itu dipakai belanja. Sisanya aku belanja entah di Molenwijk atau di Mosveld naik sepeda vanmoof putih berkantung, atau bahkan berjalan kaki saja sejak NDSM ada Albert Heijn-nya. Pengalamanku sekali belanja di Jumbo Spaarndammerstraat dilanjut beli kibbeling entah di mana sungguh buruknya, sampai aku tak ingin mengulanginya lagi, seperti kebodohan membawa berjalan-jalan seekor anjing sok keren di samping Masjid UI, buat apa punya anjing bikin repot.

Hidupku sejauh ini memang keren. Apa pantas ingin lebih keren lagi. Apa tak pantas doa seorang ibu di pusara Bung Karno sana. Apa tak pantas keinginan seorang bapak sebelum meninggalnya. Apa tak boleh Bazz Beto mampir di d'Terras RHS entah membeli apa, sedang aku harus menahan diri dari perkopian dalam bentuk apapun entah sampai kapan. Bazz Beto menunggu pesanannya sambil nangkring di kursi tinggi menghadap mesjid. Apakah pernah terpikir olehnya ketika dia masih seorang sniper dengan John Gunadi sebagai spotter-nya, dari hampir 15 tahun yang lalu.

Friday, January 03, 2025

'Dud Badud Sekarang 'Nyong Monyong Sembarang


'Kurasa ini sejenis dengan pamur yang kemudian menjadi pencak angkatan muda rasio[nal]. Betul-betul menyiksa bagi yang punya masalah penutupan (closure problem). Meski begitu menulisnya, ini bukan mengenai kesenian badud dari pedalaman Pangandaran. Hanya saja jika menyanyikannya, aku suka membacanya seperti itu, dengan 'dal', sehingga harus di-qolqolah, sehingga terdengar seperti 'badudu'. Memang penjelasan yang sangat berguna... tapi ya sutra lah, let's do it again. Mari seruput lagi teh jawa dalam cangkir plastik besar teh tong tji kesukaanku.
Ini sebenarnya mengenai badut-badut yang berkeliaran di jalan-jalan Jakarta dan pinggirannya, meski ketika menyebut "badut", yang dimaksud Bang Iwan Fals adalah anggota-anggota dewan perwakilan rakyat atau penyelenggara negara dan pemerintahan pada umumnya. Jika sampai di sini, salahkah aku jika kembali ke 1997, ketika begitu semangatnya aku mempelajari hukum kenegaraan. Salahkah aku jika tiga tahun sebelumnya tidak ada yang mendukungku secara emosional kecuali ibu, bapak, dan adik-adikku. Aku sekadar bocah yang kasihan, tiada sesiapa menyayangi.

Siapa sangka akhirnya aku sendiri jadi badut. Mengapa tidak kubeli saja topeng badut dari karet di awal 1990-an itu, yang bentuknya memang menyeramkan, yang membuat takut maminya Bunbun. yang karenanya akan dilempar bapak. Malam ini, cintailah aku malam ini tidak pernah berhenti menyamankanku entah sejak kapan. Sejak di kamar praktek dr. Hardi Leman itu kurasa. Apalah namanya itu, musik-musik manis keemasan, bergambar air terjun. Entah ke mana perginya, takkan kembali, seperti segala sesuatu dalam hidup ini berputrefaksi. Mari busuk bersama.

Jadi badud ini semacam seni pertunjukan, dengan beberapa pemeran mengenakan kostum bagong alias babi hutan, kera atau lutung, dan harimau sang raja hutan. Selain itu ada dua orang mengenakan topeng seperti yang terlihat dalam gambar. Aku tak hendak menganalisis apapun, jangankan di sini, di benak pun tak. Seperti halnya dengan badut-badut yang bertebaran di tepi-tepi jalan-jalan Jakarta dan pinggirannya, takkan kukomentari. Aku bahkan takkan bertanya-tanya apa sebabnya Ronald McDonald sudah tidak ditemui lagi di Indonesia, Ronald dan gengnya itu.

Selama ini hanya 'ku batin. Baru kali ini 'ku ungkap. 'Ku rasa, Pak Albert Nainggolan Lumbanraja sudah meninggal. Sampai beberapa tahun yang lalu beliau terus gigih menganjurkan. Sudah beberapa tahun ini tidak 'ku terima lagi anjurannya. Aku seharusnya bangga, karena banyak tokoh nasional sekaliber Mbak Titiek Soeharto yang juga menerima anjuran itu. Begitulah hidup seorang pejuang, secara beliau adalah seorang marinir korps baret ungu, pantang menyerah selama hayat masih dikandung badan. Jika benar dikau telah tiada, Pak Albert, aku masih terus berjuang. 

Memperjuangkan apa, dengan perut membuncit begini, kepala botak begini. Uah, mungkinkah seorang lelaki dan seorang perempuan yang mengiringi dansa step Howard Wolowitz sebelum bercengkerama dengan Letnan Kara Thrace dan Bernadette Rostenkowski di ranjangnya -meski ketika ia kebingungan, George Takei muncul mencoba menambah kebingungannya- adalah rendisinya Paolo Mantovani. Meskipun semenjak 1 Januari 2025, teori ledakan besar tidak lagi dapat ditemukan di bioskop jejaring jelantara, aku tak ambil peduli. Biasa. Biarlah baygon jadi baygon.

Ya sutra lah let's do it again! Biar saja aku bersenda-canda di salju sambil menenteng kantong belanjaan. Kemudaan yang sudah tidak terlalu muda namun tetap tersia-siakan. Menjulur-julur selalu kian kemari, seperti kepala bodoh versi bintara peleton Huda dari Batalyon Sikatan. Bintara peletonku sendiri sebetulnya Sersan Muslih asli Madura, komandanku Letnan Kalok Awidura. Ah ya, di sinilah akhirnya aku benar-benar mendapat ranjang bawah, di atasku Kristiono. Dari pintu, ranjang kami kedua di kanan; di pojok Suryo Triatmojo (bawah) / David Hastiadi (atas).

Thursday, January 02, 2025

Delirium, Desiderium, dan Debilitatum: Gharāniq


Penggunaan istilah-istilah latin dan arab di sini tidak berarti apa-apa. Tidak seperti Gunawan Mohamad yang menggunakan istilah-istilah ajaib seraya memaknainya. Istilah-istilah ini semata-mata untuk gaya-gayaan. Sekadar untuk membuat jengkel Hari Prasetiyo van Cemeng. Sekadar untuk menunjukkan bahwa aku ini keturunan bangsawan yang hidupnya selalu enak. Selalu cukup pangan, sandang, papan, bahkan bergelimang kemewahan berupa pengetahuan dan kebijaksanaan dari seluruh dunia. Namun tetap saja sakit hatinya bila teringat cinta kirik, ya, anak anjing itu.
Itu karena hatiku masih berdegup-degup. Apa jadinya nenek moyang penutur bahasa austronesia ketika menyadari ia merancukan hati (liver) dengan jantung (heart). Yang tidak mungkin rancu adalah perhiasan-perhiasan yang tampak dari luar, yang menggelantung indah bagai bebuahan ranum. Ya, kata 'gantung' di situ harus diberi sisipan 'el' untuk menekankan betapa tidak hanya satu, tetapi dua. Meski entah secara genetis atau mungkin juga karena trauma bisa jadi tidak stereo, apapun itu, selalu sanggup membuat hati berdegup agak lebih kencang dari biasa. 

Maka kuajak saja Dalida ketemuan di Lavandou. Selalu saja Dalida dan selalu di Lavandou dari kecilku. Sedang anak-anak lelaki di generasiku berkhayal mengenai Lasmini khayalan Niki Kosasih, aku sudah menempelkan kepalaku rapat-rapat pada kehangatan dan kelembutan Dalida. Dan bagaimana caranya memberitahu kalian, anak-anak orang susah, apa itu Lavandou. Sebuah desa nelayan yang nyaman di selatan Perancis, menghadap ke Laut Tengah. Dapatkah kalian bayangkan silir-semilir udara laut diselang-seling harum lavender, kepalaku dielus Dalida.

Kini, setelah paruh baya, aku hanya bisa berdoa agar semua anak perempuan di dunia menjadi curahan kasih-sayang bapak-bapaknya, sehingga mereka tahu apa itu kasih-sayang dalam keluarga. Aku mungkin memang asosial bahkan antisosial sekaligus, namun aku tahu persis apa itu keluarga. Bapak dan ibuku memberiku dan adik-adikku sebuah keluarga yang utuh dan sepenuhnya berfungsi. Aku tahu bagaimana bapakku berusaha bahkan sampai melampaui batas kemampuannya untuk menjadi bapak terbaik bagi adik-adik perempuanku. 'Moga surga baginya. 

Lantas musim dingin yang hanya nyaman jika kita menemukan cara untuk tetap hangat. Jika tidak, maka musim dingin bisa berarti kematian. Itulah sebabnya akhir Oktober diperingati untuk mengenang orang-orang mati setiap tahunnya di negeri-negeri belahan utara. Akhir Oktober juga sering dijadikan batas terakhir untuk menuai apapun yang disemai, karena setelahnya hari-hari akan semakin pendek dan malam-malam semakin panjang dan dingin. Ini sekadar pamer pernah menghabiskan lengkap empat musim di negerinya langsung, terutama kepada yang belum pernah.

Bapaknya Sonny pernah membuatku menjadi anggota rombongan sirkus hahaha; sedang apapun yang tersisa padaku adalah dosa-dosa yang besarnya setara mahameru. Jika ada yang bertanya apa hubungan antara dua premis yang dihubungkan dengan 'sedang' maka kau harus bertemu Lisa. Tanyakan padanya. Ia pernah meninggalkan di rumahku potretnya. Aku tidak yakin, namun mungkin kalau tidak 8R ya 10R sekali ukurannya. Besar sekali. Aduhai apa benar yang terjadi padanya. Tanya Lisa mengapa premis satu harus masuk akalmu hubungannya dengan premis lainnya. 

Tidak harus, biar kubantu menjawabnya, Lis'. Apa kau tidak pernah dengar mengenai pilihan F di mana pernyataan dan alasan kedua-duanya salah namun menunjukkan hubungan sebab-akibat. Aku jauh lebih baik dari itu. Terkadang premis atau konklusinya kubuat benar, bahkan seringkali keduanya benar, meski mungkin bagimu tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat. Lantas kau menggunakan matematika untuk menguji ada-tiadanya hubungan, dan merasa bahwa konklusimu lebih sahih, lebih absah. Berarti kau belum tahu dentuman. Apa itu dentuman.

Apa yang dapat membuatmu tahu apa itu dentuman 

Wednesday, January 01, 2025

Selamat Tahun Baru 2025. Fantastisisme Bermula


Jika aku sampai mengitiki, maka aku kesepian. Kugelitiki sekujur badanku sendiri, tiada yang geli. Entah aku punya ajian zirah emas dari kuil shaolin atau bagaimana. Cium-ciuman yang lebih manis dari anggur merah yang selalu memabukkan diri kuanggap belum seberapa dahsyatnya bila dibandingkan dengan kecupanmu selalu membuatku lesu darah. Kalimat sepanjang ini tanpa tanda baca apapun, seperti cahaya lampu berbahasa Perancis yang kunyanyikan dengan lirik salah dengar asal bunyi. Aa sembunyi, 'ku diapusi oleh buku lagu biarkan itu menjadiku ensiklopedia.
Mengapa aku masih berada di luar graha, di dinginnya udara malam Magelang setelah terompet istirahat malam berbunyi. Lampu-lampu taman menyala di antara graha, memendar cahayanya menembus melalui kaca-kaca buram. Tiga tahun di situ tidak pernah aku kebagian kasur bawah. Kelas satu di atas almarhum Ari Setiawan, kelas dua di atas Iron Setiawan, kelas tiga di atas Eri Budiman. Pernah ding sebentar di bawah Setyo Wibowo. Ya hanya tiga bulan itu kurasakan kasur bawah. Tiga bulan dalam tiga tahun hasilnya sesungging senyum di hangatnya sinar mentari.

Dengan pemandangan taman jurasik bagasnami dan jalanan blok mama, kupejamkan mataku untuk menyesapi cinta yang tak pernah kurasakan. Aku sekadar balon yang ditiup dengan penuh semburan liur ke dalamnya, bergulung-gulung tanpa daya. Terkadang dihembus angin lalu, teronggok di aspal berbatu setengah basah. Ditemu anak kecil, diinjak benjret. Kurentang lengan-lenganku menggapai entah apa. Uah, siapa sangka 'ku 'kan berhasil denganmu, nyaman-nyamannya, empuk-empuknya, belai-belai sayangnya, selalu saja dari entah bila-bila. Sayang, kau tahu bahwa...

...mimpi adalah bagi mereka yang tidur. Hidup adalah bagi kita untuk dijaga. Dan apabila kau bertanya-tanya apa maksud ini semua, aku ingin bersamamu mencapainya. Aku benar-benar berpikir kita akan berhasil. Namun sekarang adalah perayaan melodi yang tidak pernah berhenti cantik sejak bapak cina tua itu menjual lotere dan nasi uduk berlauk tempe bersambal. Seperti halnya sampai kini kesejukan minyak oles obat hidung yang bermula dari minyak lemon dari Gus Dut tidak pernah berhenti membelai-belai kepalaku yang sudah gundul sekali: 'ku sugus bukan agus. 

Satu-satunya yang patut dicatat di sini hanyalah bahwa 1 Januari 2025M ini bertepatan dengan 1 Rajab 1446H. Inilah sesungguhnya yang benar-benar harus dirayakan, seperti hakikat taqwa teronggok di meja berdebu. Di bawah tumpuk-tumpukan barang-barang fana, sedang seluruh alam ciptaan ini fana. Memang begitulah hakikat taqwa: mutiara terpendam. Di atasnya bertumpuk-tumpuk beban kegelapan menyelimuti, bahkan cangkang keras. Butuh usaha yang lebih keras untuk memecahnya. Mutiara'tu diselimuti otot lembut, mudah terluka hanya oleh pasir sebutir.

Lantas apa yang seperti dua potong oncom goreng tepung. Apa yang seperti dua mangkuk mie ayam wonogiri donoloyo. Makna dilambangkan dengan bunyi yang dilambangkan dengan gurat-guratan pada media penyimpan. Yang diingat adalah makna atau bunyinya, namun terkadang juga lambangnya. Suatu keteraturan yang mantap menuju satu-satunya tujuan: kehancuran. Bahkan itu pun bukan. Ketiadaan. Apalagi ini. Kau merasa tiada karena kau merasa ada. Ada dan tiada. Kosong itu Isi itu kosong. Di titik ini seperti biasa kujulurkan apa yang terasa seperti lengan.

Meski Jabadehat sempat beringsut-ingsut lewat mengecer-ecer lendirnya ke mana-mana, salah satu simpananku dalam laci-laci benak yang acap keluar dengan sendirinya adalah suatu simpulan mengenai kesedihan yang kiranya menetap seumur hidup. Namun aku memilih untuk mengenang latarnya, yakni stipwong ketika masih berada di lantai dua margo siti. Itu pun jika kau menyebut lantai yang berdiri sejajar dengan permukaan tanah lantai satu. Kenangan-kenangan itu biarlah berlalu, seperti berlalunya segala sesuatu dari sudut pandangku. Sesatunya yang 'ku tahu.

Tuesday, December 31, 2024

Selamat Ulang Tahun yang ke-20, Kopral Macan


Di hari ulang tahun ke-20 bohong-bohongan goblog ini, biarlah aku kembali ke 30 tahunan lalu. Tentu saja tidak tepat 30 tahun lalu, karena jika demikian, mungkin aku sedang berlayar di laut Jawa di atas KRI Teluk Sampit. Tepat di sini, seperti biasa, kereta pikiranku diganggu oleh kebatan yang membuatku, seingatku, membaca-baca jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, dan mungkin beberapa hal lainnya. Bisa jadi juga pengganggu utamanya adalah sepotong risoles ragu ayam dan kroket ayam, dengan cecabean rawitnya sekalian, nan aduhai sulit betul diambil.  
Akan halnya aku terpelanting ke 30 tahunan lalu, itulah sebenarnya suasana yang kuharapkan ketika berada di sebuah food court sangat sederhana untuk ukuran mall-mall kekinian. Modalnya tentu tidak sebesar Transmart-nya Chaerul Tanjung, yang kata Bang Ian, menggendong ibunya ketika melewati X-ray, mengangkatnya dari kursi roda. Inilah contoh bisnis yang gagal move on, namun entah bagaimana mendapatkan perpanjangan nafas di pinggiran Depok. Bahkan meja dan kursi rotannya, risoles dan kroketnya, jingle-jingle iklannya, ah terasa awal 1990-an betul. 

Namun harapan sederhana akan suasana awal 1990-an itu buyar menjadi remah-remah ketika seorang ibu-ibu muda gemuk [karena kalau gemuk muda agak wagu, memang ada gemuk tua?] entah gagal atau memang tidak berkeinginan untuk menenangkan anak laki-laki balitanya yang menangis meraung-raung. Sehebat apapun kusabari, tak sanggup juga pada akhirnya. Maka kukemasi HP11-CBku dan segera beranjak dari situ. Sudah ada semingguan ini cuaca berhujan berbadai kehabisan tenaga. Mungkin ia sedang mengumpulkan tenaga baru. Badanku beradaptasi lagi.

Uah, kastil timun ini membawaku ke suasana yang jauh berbeda lagi, mundur hampir 40 tahunan. Mengapa selalu mundur. Mengapa tidak maju. Terserah apa mau dikata, semua orang yang bicara mengenai masa depan adalah penipu, atau setidaknya pengkhayal. Aku apa adanya saja. Hanya masa lampau yang ada padaku, terpampang terang benderang di depan mata. Aku seperti gorila koko yang setiap kali sudah makan dan ditanya jawabannya menunjuk ke depan. Jika kau mengerti pun seharusnya membawa kenangan indah, bukannya malah Dr. Abdul Salam.

Selancar-lancarnya jariku mengitiki, entah bagaimana caranya selalu menyisakan tiga. Begitu biasanya. Pada titik ini tergantung tenaganya. Seperti sekarang ini, di bawah cahaya bulan berkabut yang riang begini, aku tahu aku akan bahagia di sembarang tempat di mana pun, sepanjang aku bersamamu. Ya, tentu saja kau cantik. Tepat seperti yang selalu kusangka-sangka. Beberapa kali kutulis di sini [atau belum] kau seperti Bawuk, aku Hassanmu. Namun terbalik, kau yang Mandailing polit, aku yang Jawa keturunan priyayi; kedua-duanya dimatikan oleh Umar Kayam.

Mengucap selamat tinggal itu menyakitkan. Bagaimana rasanya mengucap selamat tinggal pada hidup, seperti yang dilakukan Letda Henry Herrick, komandan peletonnya sersan Ernie Savage. Ernie pada saat itu adalah seorang komandan regu. Ah, lebih baik menyesapi keajaiban ini, entah di mana ini, sepanjang gang mahali atau entah di mana. Seperti biasa aku tidak sabaran. Sebenarnya aku bisa begini, seperti sekarang ini di dekade ketiga Abad ke-21. Namun aku memaksakannya sejak di akhir Abad ke-20. Sudahlah. Ingat saja kata Gratio, teladani Stalin atau orang hebat lainnya.

Bukan untukku mengatakannya ada dua, setidaknya dalam laci-laci benakku. Di satu laci tentu saja Cliff Richard, di laci lain Johnny Mathis. Aku lupa apakah di masa-masa ketika the best oldies station masih ada di my little town, keduanya seringkali mengudara. Aku merasa lebih pasti dengan Cliff, tapi tidak dengan Johnny. Johnny justru mengingatkanku pada iProfile. Perusahaan pembuat website. Astaga, kuno sekali, padahal itu sudah memasuki abad ini. Ya, bahkan dalam satu abad yang sama, awalnya, pertengahannya, akhirnya, dapat berlainan sekali. Begitulah itu.

Apapun, Selamat Ulang Tahun, 'Pral.

Monday, December 30, 2024

Pergi Saja Engkau Pergi Dariku Biar Kubunuh. Diri


Berhubung esok besar kemungkinannya takkan sempat menulis entri (halah!), ada baiknya kutulis sekarang saja. Mumpung gabut. Ini koq rasanya seperti musim panas di Amsterdam atau Amstelveen. Aku tidak sempat merasakan musim panas di Kraanspoor. Musim panasku di Kees Broekman dan Uilenstede. Di Kees aku ingat sekali. Gelap-gelap begini lebih seperti kamarku di Uilenstede 79C. Masih ada jejaknya di Google Maps. Namun terangnya tidak dari depan begini. Dari samping. Kurasa di situ pula mulai kukumpulkan lagu-lagu menyek mengiringiku petang ini. 
Biarkanlah aku kembali ke petang yang lain lagi, 20 tahunan lalu bahkan di Palembang. Bukan aula benar, remang-remang suasananya, bersama bocil-bocil entah angkatan berapa yang sekarang pasti sudah menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu. Nah, mending ini sekalian. Tidak ada kenangannya. Entah mengapa ia bisa berada dalam daftar ini. Menurut Angga ini adalah lagu tema anime. Liriknya dibuat menjengkelkan begini. Mengapa sekarang tema-tema seperti ini disukai. Uah, romansa memang tidak pernah baru sejak jaman Romeo dan Yuliet: sekadar diulang-ulang.

Nah, kalau ini di dalam taksi. Entah mengapa aku ingatnya taksi. Padahal naik taksi ke Radio Dalam baru nanti pagi, Insya Allah, tapi melodi cantik ini seingatku kudengar di sebuah taksi kali pertama. Tepat di perempatan Pondok Indah Mall sebelum berbelok ke kanan arah Margaguna. Sangat bisa jadi. Mungkin ketika itu juga membawa anak-anak. Ada dua seingatku yang begini kisahnya, anaknya Indra Lesmana dan anaknya Soegi entah siapa. Pintar anak-anak ini. Bagus, kata Pak Tino Sidin. Jika di situ ada Nino Kayam, mau bagaimana lagi. Cucunya Umar Kayam dia ini.

Berikutnya membawaku ke petang lain lagi, menyusuri graha bintaro entah lewat mana lagi. Mungkin tentu saja sampai sektor satu, deplu, veteran, tanah kusir, arteri, sampai masuk lewat kostrad, kwini, baru Yado. Astaga, dahulu badanku masih cukup perkasa melakukan itu, sekitar 12-an tahun lalu. Luka, luka, luka yang kurasakan. Bertubi-tubi-tubi yang kauberikan. Tak apa, 'Nak. Tadi sempat terpikir olehku, jika sampai tak ada padaku dan adikku anak, ada dua kemungkinan. (1) tak boleh diteruskan; atau, (2) harus diselesaikan sekarang juga, seperti senantiasa.

Apa tidak sebaiknya dihentikan dulu. Ya, baiknya begitu. Baru saja aku keluar dari kamar hotelku untuk mencari makanan. Ya, seperti sudah menjadi mafhum, layanan kamar biasanya harganya tidak bersaing. Maka turunlah aku menemukan warung mi aceh. Lapar, begitu tanyanya, mi aceh paling benar, begitu katanya. Malam ini tiada berapa ramai, mungkin seperti malam-malam yang telah lalu. Ada satu meja lesehan berisi satu keluarga. Di antaranya, seorang perempuan gemuk meminta mikrofon untuk berkaraoke. Setelah dua lagu ia berhenti, dilanjut setelah aku pergi.

Roberto Bellarmino Gratio memberiku oleh-oleh, yakni sebentuk patung dada Josif Stalin dari kuningan dan sebuah perjanjian baru dalam bahasa dan aksara Russia. Ia menjelaskan bahwa Stalin, walaupun penyusun utama Marxisme-Leninisme, adalah seorang eks-seminaris ortodoks, baik sebelum maupun pada saat perang besar patriotik dan setelahnya. Dia tetap menjaga keutuhan gereja Rusia dengan mengangkat Patriark Alexei. Maka, dua hal itu, Stalinisme dan kekristenan ortodoks, tidak terpisahkan. Nama baptisnya saja Josif, bapaknya Yesus Kristus. Gratio melanjutkan, semoga dalam menjalani hidup ini kita bisa meneladani Stalin, yang walaupun tidak kuliah, anak istrinya meninggal, dipenjara berkali-kali, sering direndahkan Trotsky, sering dikritik dan difitnah, tapi tetap teguh berjuang ke depan. Demikian penjelasan Gratio mengenai oleh-olehnya.

Aku tidak bisa berkata lain kecuali akan kubrasso patung Stalin itu, karena di sana-sini sudah muncul karat kuningan. Kurasa ini lebih baik daripada membraso epaulet, pin kerah, tanda korps, dan kepala sabuk. Sudah lama sekali aku tidak punya alasan untuk membrasso apapun. Hampir 30 tahun! Gratio memberiku alasan. Padahal di rumah ada jam berbentuk kemudi kapal yang ada bagian kuningannya, dan cantik sudah membeli sekaleng besar brasso. Namun belum sekali pun kugosok jam itu. Akankah aku rajin membrasso patung Stalin, aku pun belum tahu. Kita lihat saja.