Ternyata di dalam krombuk masih tersimpan memento dari suatu petang yang dihabiskan bersama keluarga di sebuah rumah minum teh tarik. Ternyata tanpa asupan glukosa sangat sulit otak diajak berpikir. Ternyata struktur kalimat paling tua justru adalah konstruksi gunting di mana subjek diikuti objek baru diakhiri predikat. Aku selalu haus akan fakta, pengetahuan, entah sejak kapan. Dapat aku bayangkan bahkan di kumuhnya kamar sebelah ibunya nenek sihir, di rumah petakan belakang apa yang sekarang menjadi pesantren al-Hikam Kukusan, aku kehausan.
Entah sudah berapa lebaran aku tidak menghancurkan peradaban-peradaban. Lebaran ini aku tidak tepat menghancurkan peradaban, tetapi kota-kota. Jika di rumah, kerjaku tidur dan bertempur saja sambil menunggu waktu berbuka. Mendekati buka, setelah ashar biasanya aku keluar mencari-cari takjil entah apa-apa. Namun semakin mendekati lebaran dan setelahnya, jalan-jalan betapa sepinya. Sampai-sampai kambing dan orong-orong 'ku beri makan bakso sekali tiga butir seekor setelah rendang praktis habis. Sayuran campur edan karena tahu busuk.
Dahulu kala ketika masih muda belaka tiada empunya sesiapa begini juga. Dahulu ada Dedi Sudedi sama-sama tidak tahu esok hari mau menjadi apa. Sudah tidak takut mati lagi, tidak seperti di awalnya. Di akhir dekade dua ribuan itu, sekadar tidak tahu saja mau apa. Kalaupun lulus lalu apa. Kini sudah lima belasan tahun berlalu dari waktu-waktu itu. Kini aku di tempat yang sama, pura-pura masih seperti dahulu. Paling enak bekerja di waktu-waktu seperti ini, kataku pada Bang Mansur. Aku hanya menipu diri sendiri. Semua tak sama, tak pernah sama, apa yang 'ku c'lepuk 'puk.
Bilakah itu, di elkapeu yang sekarang sudah menjadi lkihi bersama Dedi Sudedi. Adakah aku menyetel simfoni cinta langsung dari kasetnya. Menipu diri seakan waktu masih sama, setidaknya seperti ketika di tepian Ciliwung atau pavilyun. Luka itu tidak pernah sembuh. Semua beranjak melanjutkan perjalanan, aku terjerembab memegangi perut dengan luka menganga. Semua bertanya mengapa tak kau obati, mengapa tak upayakan kesembuhan. Dengan bibir menjebik 'ku desiskan: 'ndasmu. Seperti kantong laut, aku tinggal hanya menunggu kematian John Gunadi.
Santa Maria Immakulata. Santa Maria Asumpta. Santa Maria Innosensia. Aku memanggil-manggil Ibunda Yesus Kristus seakan-akan ibuku sendiri, seperti yang dilakukan Sersan marinir Joe Enders sebelum kematian menjemputnya. Lihat, aku tidak beranjak sedikitpun dari ketika John Gunadi membaca-baca seruan perang milik Pak Bendot, yang tidak pernah dikembalikannya. Ya, karena ia sekarang bersemayam di rak buku di rumahku, setelah 'ku keraskan sampulnya, 'ku rasa, di Barel tempat Bang Ippul. Ya, 'ku rasa itu lebaran juga, ketika kami pun berjaket logam penuh.
Sendiri, seorang diri, hanya berteman senandung seruling logam. Adakah suatu cara untuk tetap cerdas barus meski perut terasa seperti habis ditonjok sersan mayor taruna. Kalau sersan taruna pasti lebih sakit dari ini. Ini mah tonjokan sayang dari mentor sendiri. Uah, aku betul-betul tidak sanggup beranjak dari kenangan-kenanganku sendiri. Dikata buruk tapi kok pahit-pahit manis seperti senyuman karamel. Dikata manis tapi kok pedih-pedih nikmat seperti koreng hampir sembuh digaruki dithithili. Aduhai ini apa serenata manis begini yang datangnya dari hatiku sendiri.
Di atas langit-langit kamar hama padi ada cemeng ditinggal induknya. Setiap terbangun menangis ia memanggil-manggil induknya. Bagaimana drama ini akan berakhir. Akan ia berakhir dengan bau busuk selama kurang lebih seminggu sampai dua minggu. Biarlah terangnya rembulan melupakanku dari drama yang belum jelas tragedi atau komedinya ini. Sekarang bahkan sudah ada Rembulan yang gelap kompleksinya, yang Akung tidak sempat melihatnya. Aku selalu yakin akan datangnya hari ketika Akung dan Rembulan akan saling bertemu dalam keadaan terbaik.
Entah sudah berapa lebaran aku tidak menghancurkan peradaban-peradaban. Lebaran ini aku tidak tepat menghancurkan peradaban, tetapi kota-kota. Jika di rumah, kerjaku tidur dan bertempur saja sambil menunggu waktu berbuka. Mendekati buka, setelah ashar biasanya aku keluar mencari-cari takjil entah apa-apa. Namun semakin mendekati lebaran dan setelahnya, jalan-jalan betapa sepinya. Sampai-sampai kambing dan orong-orong 'ku beri makan bakso sekali tiga butir seekor setelah rendang praktis habis. Sayuran campur edan karena tahu busuk.
Dahulu kala ketika masih muda belaka tiada empunya sesiapa begini juga. Dahulu ada Dedi Sudedi sama-sama tidak tahu esok hari mau menjadi apa. Sudah tidak takut mati lagi, tidak seperti di awalnya. Di akhir dekade dua ribuan itu, sekadar tidak tahu saja mau apa. Kalaupun lulus lalu apa. Kini sudah lima belasan tahun berlalu dari waktu-waktu itu. Kini aku di tempat yang sama, pura-pura masih seperti dahulu. Paling enak bekerja di waktu-waktu seperti ini, kataku pada Bang Mansur. Aku hanya menipu diri sendiri. Semua tak sama, tak pernah sama, apa yang 'ku c'lepuk 'puk.
Bilakah itu, di elkapeu yang sekarang sudah menjadi lkihi bersama Dedi Sudedi. Adakah aku menyetel simfoni cinta langsung dari kasetnya. Menipu diri seakan waktu masih sama, setidaknya seperti ketika di tepian Ciliwung atau pavilyun. Luka itu tidak pernah sembuh. Semua beranjak melanjutkan perjalanan, aku terjerembab memegangi perut dengan luka menganga. Semua bertanya mengapa tak kau obati, mengapa tak upayakan kesembuhan. Dengan bibir menjebik 'ku desiskan: 'ndasmu. Seperti kantong laut, aku tinggal hanya menunggu kematian John Gunadi.
Santa Maria Immakulata. Santa Maria Asumpta. Santa Maria Innosensia. Aku memanggil-manggil Ibunda Yesus Kristus seakan-akan ibuku sendiri, seperti yang dilakukan Sersan marinir Joe Enders sebelum kematian menjemputnya. Lihat, aku tidak beranjak sedikitpun dari ketika John Gunadi membaca-baca seruan perang milik Pak Bendot, yang tidak pernah dikembalikannya. Ya, karena ia sekarang bersemayam di rak buku di rumahku, setelah 'ku keraskan sampulnya, 'ku rasa, di Barel tempat Bang Ippul. Ya, 'ku rasa itu lebaran juga, ketika kami pun berjaket logam penuh.
Sendiri, seorang diri, hanya berteman senandung seruling logam. Adakah suatu cara untuk tetap cerdas barus meski perut terasa seperti habis ditonjok sersan mayor taruna. Kalau sersan taruna pasti lebih sakit dari ini. Ini mah tonjokan sayang dari mentor sendiri. Uah, aku betul-betul tidak sanggup beranjak dari kenangan-kenanganku sendiri. Dikata buruk tapi kok pahit-pahit manis seperti senyuman karamel. Dikata manis tapi kok pedih-pedih nikmat seperti koreng hampir sembuh digaruki dithithili. Aduhai ini apa serenata manis begini yang datangnya dari hatiku sendiri.
Di atas langit-langit kamar hama padi ada cemeng ditinggal induknya. Setiap terbangun menangis ia memanggil-manggil induknya. Bagaimana drama ini akan berakhir. Akan ia berakhir dengan bau busuk selama kurang lebih seminggu sampai dua minggu. Biarlah terangnya rembulan melupakanku dari drama yang belum jelas tragedi atau komedinya ini. Sekarang bahkan sudah ada Rembulan yang gelap kompleksinya, yang Akung tidak sempat melihatnya. Aku selalu yakin akan datangnya hari ketika Akung dan Rembulan akan saling bertemu dalam keadaan terbaik.
Terang bulan, terang di hati