Thursday, December 04, 2025

Semar Seram Memeras-remas Nasi Rames di Mares


Sebenarnya suasana lahir batinku sangat tidak sesuai untuk mengitiki, apalagi retroaksi, sedang di belakangku cantik ribut mondar-mandir berteriak-teriak kepada keponakannya si bangbung hideung. Namun aku tidak bisa pindah ke lain alat produksi, dari HP-11CBku ini. Terlebih ketika ditemani melodi-melodi lembut begini, dengan suasana temaram begini di suatu sore hari bermendung di tepian Cikumpa. Sudah 30-an tahun ini aku jadi orang Depok. Meski melodi-melodi lembut ini berasal dari Radio Dalam, mungkin pernah ke Magelang, sungguh ianya terasa begitu Depok.
Dalam suasana seperti ini tentu saja aku lupa pada AC. Namun kalau memang tidak akan pernah ada AC di rumah, maka mungkin lebih baik sampai akhir hayat. Seperti halnya helm bau dan HP-11CB ini. Mereka berfungsi dengan baik, meski helm bau dan HP-11CB compang-camping. Mereka seperti kaporlap yang sudah makan asam-garam pertempuran bahkan peperangan. Sebenarnya sore ini, seperti biasa, aku mengantuk. Namun dengan kubawa memberondongkan kata-kata begini nyatanya aku tidak sampai terlelap. Meski terasa jua berat-beratnya pelupuk mata-mata.

Lembutnya dupa kayu cendana Jepang membelai hidung, sedang mata tertumbuk pada gelapnya langit selatan. Angin menghembus pelan dedaunan jurasik, sedang aku teringat pada kaum tani. Khayalanku, romantisisasi akannya, kusembur-hamburkan pada anak-anak kecil kelahiran milenium ketiga. Mungkin memang dari situ daya hidupku. Mungkin dengan begitu aku merasa hidup. Sama dengan belanja bagi Kak Tina, bagiku bualan-bualan ini. Kini 'ku hanya dapat mengenang, mungkin secangkir, sejebung kopi hitam pahit, mungkin sebungkus djarum super.

Bahkan kenanganku kini mengenai buku mewarnai di ruangan tengah kantor notaris media sari di bilangan Radar AURI. Entah mengapa dadaku sampai sesak, sampai menangis daku sesenggukan, jika saja tidak ditenangkan oleh kenyataan bahwa tidak akan pernah ada lainnya kecuali engkau bagiku. Ya, kau cantik. Kau yang hanya bisa dua macam untukku: cantik atau lucus. Hari-hari memang selalu begini: menyenangkan atau tidak terlalu menyenangkan. Maka benar belaka kata seorang suhu kaskus: hidup ini indah, tinggal bagaimana menikmatinya saja. Hahaha.

Harlem Spanyol dari loteng dapur belakang tepat di tepi kali Cipinang, yang di belakangnya ada suara Mas Ranu memanggil kucing entah yang mana, dari waktu-waktu yang sudah lama berlalu. Illahi Rabbi hampir 35 tahun yang lalu. Tiba-tiba, ya, tiba-tiba menyusuli Spanyol Harlem dalam daftar mainku yang ini, yang sudah berumur setidaknya 20 tahun. Uah, pesona mono liburan musim panas sungguh memukau. Bayangan-bayangan di telinga kiri, sisanya di kanan. Kocokan gitar Bruce Welsh, towelan Hank Marvin, ketukan Brian Bennett, semuanya di kiri. Aduhai.  

Ini lagi, yang harus kulakukan cuma bermimpi. Kurasa ini pun diberi harmoni oleh Bruce dan Hank. Baru kali ini kurasa kusadari betapa harmoninya aduhai sedap sekali. Entah mengapa tiba-tiba aku terbayang Pak Teddy yang bukan tukang sop kambing. Suatu bayangan yang rasanya kurang pantas, maka biarlah aku melayang diterbangkan oleh seluruh cintaku kepada kenangan akan khayalan di masa lalu. Betapa aku bisa terharu-biru, tersedu-sedu gara-gara seluruh cintaku. Ini ada bocah cilik mau mewawancaraiku mengenai kisah hidupku. Mengapa tak Pak Padang.

Bidadari. Spek bidadari. Samba-samba. Apa itu. USA, Bang, samba-samba. Ya, untuk sementara ini seperti itulah bidadari gara-gara cocerot: cowok celana melorot. Dunia ini tempatnya entah-entah: hanya sedikit jatuh cinta, tidak sampai banyak, apalagi banyak-banyak, apalagi kebanyakan. Sedikit saja. Pada apa. Kalau aku jatuh cinta setiap saat, selalu jatuh cinta. Terbawa ingatanku pada balsem geliga dan mungkin tolak angin yang kubeli di RSPAD, ketika aku seharian di Foko. Bilakah itu. Mengapa ke situ ingatan membawaku. Sesaat saja kujatuh cinta pada. 

No comments: