Apakah memungkinkan menulis entri dengan Redmi 15C begini. Jika ternyata memungkinkan ini akan sangat revolusioner sekali. Papan menu di atas terasa berbeda dari biasanya jika di HP-11CB apalagi Lenovo AiO 520. Apakah benar gawai-gawai ini akan 'ku relakan segera. Ini adalah suatu krisis eksistensial tri-dimensional, ketika aku menuliskan aliran-aliran kesadaran begini rupa, tanpa peduli akibatnya pada persekitaran. Penggunaan kata-kata panjang ini pasti juga akan menyulitkan rata kanan-kiri. Hehehe, ternyata bisa begini.
Sungguh menarik persekitaranku sekarang, bahkan bebauan yang terkadang melintasi indera penciuman. Di hadapanku tertulis besar-besar lapangan makanan, bahkan makanan-sekap. Beberapa tahun lalu, mungkin sebelum wabah, ini adalah sebuah tempat yang ramai penuh keriangan. Mungkin di sini pula Ihza Aklan abangnya Awful Aklan memadu kasih dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya. Sungguh aku melihat Ihza tak ubahnya kambing. Mungkin memang sudah begini nasibnya dunia, dihuni kambing-kambing.
Mungkin ada baiknya jika 'ku katakan pada sidang pembaca yang budiman sujatmiko betapa aku mengenakan kaus lebah kebanggaanku. Lebah 'kan garis-garis hitam kuningnya mendatar, ini aku membujur, jadi masa lebah. Sesungguhnya aku mengenakan kaus Perseman Manokwari yang dulu pernah dikenakan pula dengan gilang-gemilang oleh Bapa Adolof Kabo, Bapa Yonas Sawor, dan sebagainya. Oh, Indonesiaku. Oh, Irianku nan Jaya. Oh, masa kecilku. Hanya ikan-ikan [setan?] belang ini yang menemaniku kini.
Mengingat kerepotan yang ditimbulkannya, terutama tiap-tiap kali harus menurunkan papan-kunci-pada-layar yang muncul setiap aku mendudul layar untuk menempatkan kursor pada tulisan, mungkin memang harus segera di-Axioo Hype-R X8-kan. OLED atau tidak. Apakah akan 'ku lakukan segera setelah ini, atau menunggu sampai entri entah-entah ini tayang dulu, aku tidak tahu. Nyatanya waktu belum lagi menunjukkan pukul 11.00, waktu resmi bukanya toko komputer Agres di Detos sini. Masih kurang setengah jam pukul lagi.
...dan ketenanganku, kesendirianku, kembali dirusak oleh musik entah-entah seperti sebelumnya di mekdi tadi, semakin menguatkan tekadku untuk segera meluncur membeli Axioo Hype R X8 OLED dan mendapatkan kembali ketenanganku entah di mana. Labkum dengan pemandangan hijau-hijauan segar tentu menjadi tujuan utama. Namun jika ternyata tidak kondusif, aku selalu bisa mencari tempat persembunyian lain. Aku semacam kecoa, suka bersembunyi dari orang, namun hanya semacam saja, karena aku naga yang singa.
Akhirnya terjadilah. Aku punya Axioo Hype-R X8 OLED beserta segala uborampenya. Namun aku harus menunggu agak satu jam senyampang pelindung layarnya dipasang oleh Mbak Astri. Dalam perjalananku ke Makanan-sekap, indera penciumanku digelitik oleh aroma Indomie goreng yang khas selama berpuluh-puluh tahun. Namun perlu 'ku tekankan di sini. Debutnya tidak sama dengan apa yang ada sekarang: lebih tradisional. Bahkan dulu sempat bersayur-sayur, yang sempat tak 'ku sukai. Sekarang aku suka sayur. Sungguh.
Tepat hal inilah yang membuatku harus ber-Hype-R X8 yang ber-BA JKT 48. Sungguh menjengkelkan papan-tekan-pada-layar yang betul-betul gigih muncul saban aku menutul layar. Tadi 'ku kata ndudul sekarang nutul. Tinggal ujian terakhir. Dapatkah aku memasang penggambaran dengan Redmi 15C ini. Seharusnya bisa saja karena 'ku rasa pasti adalah editor gambar meski aku belum pernah mencoba. Astaga betapa merepotkan. Ya, sutra lah let's do it again. John Gunadi sudah mati. Mas Wirok entah akankah sehat kembali.
Sungguh menarik persekitaranku sekarang, bahkan bebauan yang terkadang melintasi indera penciuman. Di hadapanku tertulis besar-besar lapangan makanan, bahkan makanan-sekap. Beberapa tahun lalu, mungkin sebelum wabah, ini adalah sebuah tempat yang ramai penuh keriangan. Mungkin di sini pula Ihza Aklan abangnya Awful Aklan memadu kasih dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya. Sungguh aku melihat Ihza tak ubahnya kambing. Mungkin memang sudah begini nasibnya dunia, dihuni kambing-kambing.
Mungkin ada baiknya jika 'ku katakan pada sidang pembaca yang budiman sujatmiko betapa aku mengenakan kaus lebah kebanggaanku. Lebah 'kan garis-garis hitam kuningnya mendatar, ini aku membujur, jadi masa lebah. Sesungguhnya aku mengenakan kaus Perseman Manokwari yang dulu pernah dikenakan pula dengan gilang-gemilang oleh Bapa Adolof Kabo, Bapa Yonas Sawor, dan sebagainya. Oh, Indonesiaku. Oh, Irianku nan Jaya. Oh, masa kecilku. Hanya ikan-ikan [setan?] belang ini yang menemaniku kini.
Mengingat kerepotan yang ditimbulkannya, terutama tiap-tiap kali harus menurunkan papan-kunci-pada-layar yang muncul setiap aku mendudul layar untuk menempatkan kursor pada tulisan, mungkin memang harus segera di-Axioo Hype-R X8-kan. OLED atau tidak. Apakah akan 'ku lakukan segera setelah ini, atau menunggu sampai entri entah-entah ini tayang dulu, aku tidak tahu. Nyatanya waktu belum lagi menunjukkan pukul 11.00, waktu resmi bukanya toko komputer Agres di Detos sini. Masih kurang setengah jam pukul lagi.
...dan ketenanganku, kesendirianku, kembali dirusak oleh musik entah-entah seperti sebelumnya di mekdi tadi, semakin menguatkan tekadku untuk segera meluncur membeli Axioo Hype R X8 OLED dan mendapatkan kembali ketenanganku entah di mana. Labkum dengan pemandangan hijau-hijauan segar tentu menjadi tujuan utama. Namun jika ternyata tidak kondusif, aku selalu bisa mencari tempat persembunyian lain. Aku semacam kecoa, suka bersembunyi dari orang, namun hanya semacam saja, karena aku naga yang singa.
Akhirnya terjadilah. Aku punya Axioo Hype-R X8 OLED beserta segala uborampenya. Namun aku harus menunggu agak satu jam senyampang pelindung layarnya dipasang oleh Mbak Astri. Dalam perjalananku ke Makanan-sekap, indera penciumanku digelitik oleh aroma Indomie goreng yang khas selama berpuluh-puluh tahun. Namun perlu 'ku tekankan di sini. Debutnya tidak sama dengan apa yang ada sekarang: lebih tradisional. Bahkan dulu sempat bersayur-sayur, yang sempat tak 'ku sukai. Sekarang aku suka sayur. Sungguh.
Tepat hal inilah yang membuatku harus ber-Hype-R X8 yang ber-BA JKT 48. Sungguh menjengkelkan papan-tekan-pada-layar yang betul-betul gigih muncul saban aku menutul layar. Tadi 'ku kata ndudul sekarang nutul. Tinggal ujian terakhir. Dapatkah aku memasang penggambaran dengan Redmi 15C ini. Seharusnya bisa saja karena 'ku rasa pasti adalah editor gambar meski aku belum pernah mencoba. Astaga betapa merepotkan. Ya, sutra lah let's do it again. John Gunadi sudah mati. Mas Wirok entah akankah sehat kembali.


No comments:
Post a Comment