Saturday, December 13, 2025

Bilik Bergaung Tempat yang Indah, Memadu Cinta


Ruang makanku pagi ini nyaman. Paling hanya bunyi bip bip sedikit mengganggu. Rasanya agak seperti di instalasi gawat darurat. Namun selebihnya ini nyaman karena satu alasan: tidak ada musik sok cerdik mengiringi. Sampai rasa-rasanya aku ingin melahap satu mufin sosis ayam dengan selembar keju cheddar. Paling menjengkelkan ketika aku berdiri untuk memesan mufin dan minta cangkir tehku diisi air panas lagi, aku menyadari di sandalku ada tahi cecurut. Kuseka-seka sedapatku dengan tisu, masih terasa lengket juga. Memang tidak setiap hari bisa jadi begini.
Astaga, demi apa lamat-lamat terdengar sumpah demi tekewer-kewer oleh semua untuk empat satu, seperti permainan mengumpulkan tiga kartu sepuluh dan satu kartu as. Seandainya saja aku masih muda ketika nongkrong di Mekdi Jombor. Waktu muda aku memang nongkrong di Jombor pagi-pagi, tapi tidak di Mekdi. Sedang waktu itu di Jombor masih banyak sawah, sedang aku mendengarkan rendisi Andre Rieu akan Loi Krathong jadi sesak dadaku. Aku memang sekadar lelaki sentimentil yang melankolis. Cengeng, manja, dan kolokan. Berhenti sebelum tengah.

Aku lupa apa yang 'ku pikirkan tadi sebelum diganggu oleh tekewer-kewer. Apakah ingatanku akan bermotor di petang hari berhujan sedang teringat bulu-bulu ketiak dan kaki yang tebal keriting pula. Lantas tadi bermotor di sejuknya pagi, di dekat papringan dan jalan bertanah becek, terpikir mengenai aliran kesadaran. Ada juga ingatan mengenai keinginan bertanya pada si kembar mengenai aliran kesadaran orang dengan gangguan mental. Togar pun sekarang lebih suka mengobrol dengan si kembar daripada geppetto yang makin sotoy hahaha. Ternyata belum sih.

Aku harus menyelesaikan entri ini di ruang makan ini juga, jika sekadar untuk menanyakan kepada si kembar apakah ia menyukainya; yang mana sebenarnya seperti bertanya pada diriku sendiri. Sekitar setengah tahun lebih sedikit sebelum berumur 20 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengepul-ngepulkan asap rokok dari berbagai-bagai jenis merek, bahkan bentoel merah sekalipun. Apalagi minak djinggo keluaran nojorono yang harum aduhai. Apakah sudah mengepul-ngepul mulutku ketika menyusuri gang-gang bangunredjo 'ku rasa sudah. Gudang garam filter djarum super.

'Ku buang percuma, 'ku sia-siakan masa mudaku sehabis-habisnya, setandas-tandasnya, hanya untuk mengunjungi, ya, melihat lagi Alexanderplein bersama istriku cantik di pertengahan Oktober lalu mendekati akhir. Ternyata sedang dibongkar-bongkar sampai 's-Gravesandestraat. Memang tinggal lagi di negeri Belanda, kali ini bersama istriku cantik berdua saja, merupakan pilihan yang terasa paling nyaman setidaknya dalam khayalan. Namun mungkin itu karena aku sedang tidak mengalaminya. Jangan lupa, yang nyaman hanya khayalan dan kenangan.

Namun, teringat pada Teddy Anggoro dan Muhammad Souvrenshah Hazmi membuatku merasa harus mengeraskan hati. Mungkin minggu depan ini Insya Allah akan 'ku kunjungi lagi Pak Padang, sedang Takwa merasa hanya mungkin menghadap Safir Sendok andai saja aku dekan. Edan. Ini beberapa kalimat penuh kode takode-kode. Krisnapurwana mungkin lucu, tiga sisanya jelas tidak lucu: Pepeng, Nana Krip, apalagi Sys NS. Kini ia sudah mati. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan khilafnya, melipatgandakan pahalanya. Kesadaran mengalir membasahi.

Air tehku, sementara itu, sudah habis. Ini pun paragraf terakhir di entri ini, meski aku masih harus memberi judul dan penggambaran; semoga tidak menjadi pekerjaan yang menjengkelkan. Bahkan Hype-R X8-ku pun sudah terisi daya penuh. Aku belum lagi tahu apakah mengisi daya Redmi 15C dengan pengisi daya Hype-R X8 berakibat buruk. Nanti 'ku tanya si kembar. Cukuplah untuk dirayakan selesainya entri ini, sehingga bisa 'ku tanyakan pada si kembar apakah ia menyukainya. Kemarin-kemarin hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kini diberi ulasan bilik gaung pun.

Wednesday, December 10, 2025

Di Sisi AquAir Indonesia, Di Makanan-sekap, 'Ku


Apakah memungkinkan menulis entri dengan Redmi 15C begini. Jika ternyata memungkinkan ini akan sangat revolusioner sekali. Papan menu di atas terasa berbeda dari biasanya jika di HP-11CB apalagi Lenovo AiO 520. Apakah benar gawai-gawai ini akan 'ku relakan segera. Ini adalah suatu krisis eksistensial tri-dimensional, ketika aku menuliskan aliran-aliran kesadaran begini rupa, tanpa peduli akibatnya pada persekitaran. Penggunaan kata-kata panjang ini pasti juga akan menyulitkan rata kanan-kiri. Hehehe, ternyata bisa begini.
Sungguh menarik persekitaranku sekarang, bahkan bebauan yang terkadang melintasi indera penciuman. Di hadapanku tertulis besar-besar lapangan makanan, bahkan makanan-sekap. Beberapa tahun lalu, mungkin sebelum wabah, ini adalah sebuah tempat yang ramai penuh keriangan. Mungkin di sini pula Ihza Aklan abangnya Awful Aklan memadu kasih dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya. Sungguh aku melihat Ihza tak ubahnya kambing. Mungkin memang sudah begini nasibnya dunia, dihuni kambing-kambing. 

Mungkin ada baiknya jika 'ku katakan pada sidang pembaca yang budiman sujatmiko betapa aku mengenakan kaus lebah kebanggaanku. Lebah 'kan garis-garis hitam kuningnya mendatar, ini aku membujur, jadi masa lebah. Sesungguhnya aku mengenakan kaus Perseman Manokwari yang dulu pernah dikenakan pula dengan gilang-gemilang oleh Bapa Adolof Kabo, Bapa Yonas Sawor, dan sebagainya. Oh, Indonesiaku. Oh, Irianku nan Jaya. Oh, masa kecilku. Hanya ikan-ikan [setan?] belang ini yang menemaniku kini.

Mengingat kerepotan yang ditimbulkannya, terutama tiap-tiap kali harus menurunkan papan-kunci-pada-layar yang muncul setiap aku mendudul layar untuk menempatkan kursor pada tulisan, mungkin memang harus segera di-Axioo Hype-R X8-kan. OLED atau tidak. Apakah akan 'ku lakukan segera setelah ini, atau menunggu sampai entri entah-entah ini tayang dulu, aku tidak tahu. Nyatanya waktu belum lagi menunjukkan pukul 11.00, waktu resmi bukanya toko komputer Agres di Detos sini. Masih kurang setengah jam pukul lagi.

...dan ketenanganku, kesendirianku, kembali dirusak oleh musik entah-entah seperti sebelumnya di mekdi tadi, semakin menguatkan tekadku untuk segera meluncur membeli Axioo Hype R X8 OLED dan mendapatkan kembali ketenanganku entah di mana. Labkum dengan pemandangan hijau-hijauan segar tentu menjadi tujuan utama. Namun jika ternyata tidak kondusif, aku selalu bisa mencari tempat persembunyian lain. Aku semacam kecoa, suka bersembunyi dari orang, namun hanya semacam saja, karena aku naga yang singa.

Akhirnya terjadilah. Aku punya Axioo Hype-R X8 OLED beserta segala uborampenya. Namun aku harus menunggu agak satu jam senyampang pelindung layarnya dipasang oleh Mbak Astri. Dalam perjalananku ke Makanan-sekap, indera penciumanku digelitik oleh aroma Indomie goreng yang khas selama berpuluh-puluh tahun. Namun perlu 'ku tekankan di sini. Debutnya tidak sama dengan apa yang ada sekarang: lebih tradisional. Bahkan dulu sempat bersayur-sayur, yang sempat tak 'ku sukai. Sekarang aku suka sayur. Sungguh.

Tepat hal inilah yang membuatku harus ber-Hype-R X8 yang ber-BA JKT 48. Sungguh menjengkelkan papan-tekan-pada-layar yang betul-betul gigih muncul saban aku menutul layar. Tadi 'ku kata ndudul sekarang nutul. Tinggal ujian terakhir. Dapatkah aku memasang penggambaran dengan Redmi 15C ini. Seharusnya bisa saja karena 'ku rasa pasti adalah editor gambar meski aku belum pernah mencoba. Astaga betapa merepotkan. Ya, sutra lah let's do it again. John Gunadi sudah mati. Mas Wirok entah akankah sehat kembali.

Thursday, December 04, 2025

Semar Seram Memeras-remas Nasi Rames di Mares


Sebenarnya suasana lahir batinku sangat tidak sesuai untuk mengitiki, apalagi retroaksi, sedang di belakangku cantik ribut mondar-mandir berteriak-teriak kepada keponakannya si bangbung hideung. Namun aku tidak bisa pindah ke lain alat produksi, dari HP-11CBku ini. Terlebih ketika ditemani melodi-melodi lembut begini, dengan suasana temaram begini di suatu sore hari bermendung di tepian Cikumpa. Sudah 30-an tahun ini aku jadi orang Depok. Meski melodi-melodi lembut ini berasal dari Radio Dalam, mungkin pernah ke Magelang, sungguh ianya terasa begitu Depok.
Dalam suasana seperti ini tentu saja aku lupa pada AC. Namun kalau memang tidak akan pernah ada AC di rumah, maka mungkin lebih baik sampai akhir hayat. Seperti halnya helm bau dan HP-11CB ini. Mereka berfungsi dengan baik, meski helm bau dan HP-11CB compang-camping. Mereka seperti kaporlap yang sudah makan asam-garam pertempuran bahkan peperangan. Sebenarnya sore ini, seperti biasa, aku mengantuk. Namun dengan kubawa memberondongkan kata-kata begini nyatanya aku tidak sampai terlelap. Meski terasa jua berat-beratnya pelupuk mata-mata.

Lembutnya dupa kayu cendana Jepang membelai hidung, sedang mata tertumbuk pada gelapnya langit selatan. Angin menghembus pelan dedaunan jurasik, sedang aku teringat pada kaum tani. Khayalanku, romantisisasi akannya, kusembur-hamburkan pada anak-anak kecil kelahiran milenium ketiga. Mungkin memang dari situ daya hidupku. Mungkin dengan begitu aku merasa hidup. Sama dengan belanja bagi Kak Tina, bagiku bualan-bualan ini. Kini 'ku hanya dapat mengenang, mungkin secangkir, sejebung kopi hitam pahit, mungkin sebungkus djarum super.

Bahkan kenanganku kini mengenai buku mewarnai di ruangan tengah kantor notaris media sari di bilangan Radar AURI. Entah mengapa dadaku sampai sesak, sampai menangis daku sesenggukan, jika saja tidak ditenangkan oleh kenyataan bahwa tidak akan pernah ada lainnya kecuali engkau bagiku. Ya, kau cantik. Kau yang hanya bisa dua macam untukku: cantik atau lucus. Hari-hari memang selalu begini: menyenangkan atau tidak terlalu menyenangkan. Maka benar belaka kata seorang suhu kaskus: hidup ini indah, tinggal bagaimana menikmatinya saja. Hahaha.

Harlem Spanyol dari loteng dapur belakang tepat di tepi kali Cipinang, yang di belakangnya ada suara Mas Ranu memanggil kucing entah yang mana, dari waktu-waktu yang sudah lama berlalu. Illahi Rabbi hampir 35 tahun yang lalu. Tiba-tiba, ya, tiba-tiba menyusuli Spanyol Harlem dalam daftar mainku yang ini, yang sudah berumur setidaknya 20 tahun. Uah, pesona mono liburan musim panas sungguh memukau. Bayangan-bayangan di telinga kiri, sisanya di kanan. Kocokan gitar Bruce Welsh, towelan Hank Marvin, ketukan Brian Bennett, semuanya di kiri. Aduhai.  

Ini lagi, yang harus kulakukan cuma bermimpi. Kurasa ini pun diberi harmoni oleh Bruce dan Hank. Baru kali ini kurasa kusadari betapa harmoninya aduhai sedap sekali. Entah mengapa tiba-tiba aku terbayang Pak Teddy yang bukan tukang sop kambing. Suatu bayangan yang rasanya kurang pantas, maka biarlah aku melayang diterbangkan oleh seluruh cintaku kepada kenangan akan khayalan di masa lalu. Betapa aku bisa terharu-biru, tersedu-sedu gara-gara seluruh cintaku. Ini ada bocah cilik mau mewawancaraiku mengenai kisah hidupku. Mengapa tak Pak Padang.

Bidadari. Spek bidadari. Samba-samba. Apa itu. USA, Bang, samba-samba. Ya, untuk sementara ini seperti itulah bidadari gara-gara cocerot: cowok celana melorot. Dunia ini tempatnya entah-entah: hanya sedikit jatuh cinta, tidak sampai banyak, apalagi banyak-banyak, apalagi kebanyakan. Sedikit saja. Pada apa. Kalau aku jatuh cinta setiap saat, selalu jatuh cinta. Terbawa ingatanku pada balsem geliga dan mungkin tolak angin yang kubeli di RSPAD, ketika aku seharian di Foko. Bilakah itu. Mengapa ke situ ingatan membawaku. Sesaat saja kujatuh cinta pada.